Gagal ginjal tidak selalu identik dengan usia lanjut. Sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal jika dilakukan terus-menerus, terutama ketika disertai tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, atau kondisi kesehatan lainnya. Kenali enam kebiasaan yang perlu diwaspadai sejak muda.
Mendengar kata gagal ginjal, banyak orang langsung membayangkan penyakit yang hanya terjadi pada orang lanjut usia. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Gangguan ginjal dapat terjadi pada berbagai kelompok usia. Risiko seseorang tentu dipengaruhi banyak faktor, termasuk penyakit tertentu, faktor keturunan, penggunaan obat, pola makan, tekanan darah, kadar gula darah, hingga kebiasaan sehari-hari.
Ginjal memiliki peran yang sangat penting. Organ berbentuk seperti kacang ini membantu menyaring limbah dari darah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, serta berperan dalam pengaturan tekanan darah dan produksi hormon tertentu.
Masalahnya, kerusakan ginjal sering berkembang secara perlahan dan tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Karena itu, kebiasaan yang tampak sederhana sebaiknya tidak disepelekan.
Berikut enam kebiasaan yang perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan terus-menerus dan disertai faktor risiko lainnya.
1. Sering Kurang Minum
Tubuh membutuhkan cairan agar berbagai fungsi berjalan dengan baik. Salah satunya berkaitan dengan proses pembuangan zat sisa melalui urine.
Kebiasaan jarang minum dapat membuat tubuh mengalami dehidrasi. Jika terjadi berulang atau berat, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan pada fungsi ginjal.
Risikonya semakin besar ketika seseorang banyak berkeringat, berolahraga dalam waktu lama, mengalami muntah atau diare, tetapi tidak mengganti cairan yang hilang.
Namun, bukan berarti semakin banyak minum selalu semakin baik.
Kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Aktivitas, cuaca, usia, kondisi kesehatan, serta obat yang dikonsumsi dapat memengaruhi kebutuhan cairan seseorang.
Orang yang memiliki penyakit ginjal atau kondisi medis tertentu bahkan mungkin memiliki aturan konsumsi cairan khusus.
Cara sederhana mencegahnya
Biasakan minum secara teratur sepanjang hari dan jangan menunggu sampai rasa haus menjadi sangat kuat. Air putih dapat menjadi pilihan utama.
Jika urine berwarna sangat pekat dan jumlahnya jauh lebih sedikit dari biasanya, hal tersebut dapat menjadi tanda tubuh kekurangan cairan, meskipun warna urine juga dapat dipengaruhi makanan, obat, dan kondisi tertentu.
2. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam
Makanan tinggi garam tidak selalu terasa sangat asin.
Natrium dalam jumlah tinggi dapat tersembunyi dalam makanan instan, makanan kemasan, makanan cepat saji, kerupuk, makanan olahan, saus, serta berbagai produk siap santap.
Asupan natrium yang terlalu tinggi dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor penting yang dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang berkaitan dengan fungsi ginjal.
Ketika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, kemampuan ginjal untuk bekerja secara optimal dapat terganggu.
Cara menguranginya
Tidak harus langsung menghilangkan garam dari makanan.
Mulailah dengan mengurangi makanan ultra-proses dan membiasakan diri mencicipi makanan sebelum menambahkan garam atau saus.
Gunakan rempah, bawang putih, jahe, kunyit, jeruk nipis, atau berbagai bumbu alami untuk memperkaya rasa makanan.
3. Sering Menahan Buang Air Kecil
Menahan buang air kecil sesekali karena keadaan tertentu biasanya bukan berarti seseorang langsung mengalami kerusakan ginjal.
Namun, menjadikannya kebiasaan bukan pilihan yang baik.
Menahan urine terlalu lama dan terlalu sering dapat membuat kandung kemih bekerja dalam kondisi yang tidak ideal. Pada kondisi tertentu, masalah saluran kemih juga dapat berkembang dan memerlukan penanganan.
Infeksi saluran kemih yang tidak ditangani dapat menyebar ke bagian saluran kemih yang lebih tinggi dan pada kasus tertentu memengaruhi ginjal.
Karena itu, jangan membiasakan diri menunda buang air kecil berulang kali hanya karena sibuk bekerja, bermain gim, menonton film, atau melakukan aktivitas lainnya.
Kebiasaan yang lebih baik
Ketika tubuh memberikan dorongan untuk buang air kecil, usahakan untuk tidak menundanya terlalu lama.
Jika muncul keluhan seperti nyeri saat buang air kecil, urine berdarah, demam, nyeri pinggang, atau perubahan pola buang air kecil yang menetap, sebaiknya periksakan ke tenaga kesehatan.
4. Sembarangan Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri
Obat pereda nyeri memang dapat membantu mengatasi berbagai keluhan. Namun, beberapa jenis obat pereda nyeri, terutama kelompok NSAID, dapat memengaruhi fungsi ginjal.
Risikonya dapat meningkat jika obat digunakan terlalu sering, dalam dosis tinggi, atau pada orang yang sudah memiliki masalah ginjal, mengalami dehidrasi, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap obat yang bisa dibeli tanpa resep pasti aman digunakan sesuka hati.
Padahal, obat tetap memiliki aturan penggunaan dan efek samping.
Agar lebih aman
Jangan mengonsumsi obat pereda nyeri lebih sering atau lebih banyak daripada aturan yang dianjurkan.
Jika membutuhkan obat tersebut berulang kali karena nyeri sering kambuh, jangan hanya mengobati gejalanya. Cari tahu penyebab nyerinya bersama tenaga kesehatan.
Hal yang sama berlaku untuk suplemen dan produk herbal. Label “alami” tidak otomatis berarti bebas risiko terhadap ginjal.
5. Terlalu Sering Mengonsumsi Minuman Manis
Minuman manis sering dianggap sebagai masalah berat badan saja. Padahal, kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kesehatan metabolik secara keseluruhan.
Konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme, termasuk diabetes.
Diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting penyakit ginjal kronis.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya soda. Minuman teh kemasan, kopi dengan sirup dan krimer manis, minuman boba, minuman energi, serta berbagai minuman kekinian juga dapat mengandung gula dalam jumlah tinggi.
Masalahnya, minuman mudah dikonsumsi dalam jumlah besar karena tidak selalu memberikan rasa kenyang seperti makanan padat.
Pilihan yang lebih baik
Air putih tetap menjadi pilihan utama.
Jika ingin minuman dengan rasa, pilih teh atau kopi tanpa banyak tambahan gula. Air dengan irisan buah atau rempah juga dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi minuman manis.
6. Mengabaikan Tekanan Darah dan Gula Darah
Ini merupakan kebiasaan yang sering tidak terasa seperti “kebiasaan buruk”.
Seseorang mungkin merasa sehat karena tidak mengalami keluhan apa pun. Akibatnya, pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sering diabaikan selama bertahun-tahun.
Padahal, tekanan darah tinggi dan diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.
Jika tidak dikendalikan, keduanya dapat secara perlahan merusak pembuluh darah dan jaringan ginjal.
Inilah salah satu alasan mengapa menjaga kesehatan ginjal tidak cukup hanya dengan minum air putih.
Apa yang bisa dilakukan?
Jika memiliki faktor risiko, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Perhatikan tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, serta pola makan dan aktivitas fisik.
Semakin cepat faktor risiko ditemukan, semakin besar kesempatan untuk mengendalikannya sebelum menimbulkan kerusakan lebih lanjut.
Mengapa Gagal Ginjal Bisa Terjadi pada Usia Muda?
Usia muda memang dapat memberikan keuntungan tertentu, tetapi bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit ginjal.
Penyakit ginjal pada usia muda dapat berkaitan dengan berbagai penyebab.
Beberapa di antaranya adalah:
- Diabetes.
- Tekanan darah tinggi.
- Penyakit ginjal bawaan atau keturunan.
- Kelainan struktur saluran kemih.
- Penyakit autoimun tertentu.
- Infeksi yang memengaruhi ginjal.
- Penggunaan obat tertentu secara tidak tepat.
- Obesitas dan gangguan metabolisme.
- Cedera ginjal akut yang berat atau berulang.
Karena penyebabnya beragam, seseorang tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa gagal ginjal hanya disebabkan oleh satu kebiasaan.
Enam kebiasaan di atas lebih tepat dipahami sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko atau memperburuk kondisi tertentu, bukan penyebab tunggal pada setiap kasus.
Gejala Gangguan Ginjal yang Tidak Boleh Diabaikan
Salah satu tantangan penyakit ginjal adalah gejalanya dapat samar pada tahap awal.
Ketika fungsi ginjal mulai mengalami gangguan, beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:
- Perubahan frekuensi buang air kecil.
- Urine berbusa secara terus-menerus.
- Urine mengandung darah.
- Pembengkakan pada kaki atau sekitar mata.
- Tubuh mudah lelah.
- Mual atau kehilangan nafsu makan.
- Kulit terasa gatal.
- Sesak napas pada kondisi tertentu.
- Tekanan darah meningkat.
Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gagal ginjal.
Banyak kondisi lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Urine Berbusa, Apakah Selalu Berarti Ginjal Bermasalah?
Tidak.
Urine dapat terlihat berbusa karena aliran urine yang deras, kondisi toilet, atau faktor lainnya.
Namun, jika urine berbusa terjadi terus-menerus dan tampak sangat berbeda dari biasanya, terutama jika disertai pembengkakan tubuh atau perubahan jumlah urine, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Salah satu hal yang dapat diperiksa oleh tenaga kesehatan adalah adanya protein dalam urine.
Protein yang keluar melalui urine secara terus-menerus dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal.
Jadi, jangan mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan tampilan urine.
Cara Menjaga Ginjal Tetap Sehat Sejak Muda
Menjaga kesehatan ginjal tidak membutuhkan kebiasaan yang rumit.
Justru, langkah paling penting biasanya berasal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Minum cukup
Sesuaikan asupan cairan dengan kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan.
Kurangi garam
Batasi makanan yang tinggi natrium, terutama makanan ultra-proses.
Perbanyak makanan utuh
Sayuran, buah, biji-bijian, serta sumber protein berkualitas dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Aktif bergerak
Aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga berat badan dan kesehatan metabolik.
Jaga tekanan darah
Tekanan darah yang terkendali sangat penting untuk kesehatan pembuluh darah dan ginjal.
Kendalikan gula darah
Bagi penderita diabetes, pengendalian gula darah menjadi bagian penting untuk menurunkan risiko komplikasi.
Jangan sembarangan minum obat
Gunakan obat sesuai aturan dan jangan menjadikan obat pereda nyeri sebagai solusi rutin tanpa mengetahui penyebab keluhan.
Hindari rokok
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk yang berkaitan dengan ginjal.
Apakah Minum Air Putih Bisa Mencegah Gagal Ginjal?
Air putih penting untuk menjaga hidrasi, tetapi tidak bisa dianggap sebagai pelindung mutlak dari gagal ginjal.
Seseorang yang rajin minum air putih tetap dapat mengalami penyakit ginjal akibat diabetes, hipertensi, penyakit autoimun, faktor genetik, kelainan saluran kemih, obat tertentu, atau penyebab lainnya.
Sebaliknya, minum air dalam jumlah berlebihan juga bukan strategi untuk “membersihkan ginjal”.
Ginjal memiliki mekanisme sendiri untuk mengatur cairan tubuh. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda.
Karena itu, slogan sederhana seperti “semakin banyak minum, semakin sehat ginjal” tidak selalu benar.
Jangan Menunggu Sakit untuk Memeriksa Ginjal
Banyak orang baru memikirkan kesehatan ginjal setelah muncul keluhan.
Padahal, pemeriksaan sederhana dapat membantu menemukan faktor risiko lebih awal.
Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi seseorang antara lain tekanan darah, gula darah, pemeriksaan urine, dan pemeriksaan darah untuk menilai fungsi ginjal.
Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan dengan frekuensi yang sama.
Mereka yang memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga penyakit ginjal, penyakit jantung, obesitas, atau faktor risiko tertentu sebaiknya berdiskusi dengan dokter mengenai pemeriksaan yang sesuai.
Kesimpulan
Masih muda bukan berarti kebal terhadap penyakit ginjal.
Enam kebiasaan yang perlu diwaspadai adalah sering kurang minum, terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam, sering menahan buang air kecil, menggunakan obat pereda nyeri secara sembarangan, terlalu sering minum minuman manis, serta mengabaikan tekanan darah dan gula darah.
Namun, perlu dipahami bahwa gagal ginjal biasanya tidak disebabkan oleh satu kebiasaan saja. Penyakit ginjal dapat dipengaruhi kombinasi faktor gaya hidup, penyakit kronis, obat-obatan, faktor genetik, infeksi, maupun kondisi medis lainnya.
Kabar baiknya, banyak faktor risiko dapat dikelola sejak usia muda.
Mulailah dari hal sederhana: cukup minum sesuai kebutuhan, kurangi makanan tinggi garam dan gula, aktif bergerak, jangan sembarangan mengonsumsi obat, serta periksa tekanan darah dan gula darah secara berkala jika memiliki faktor risiko.
Ginjal sering bekerja tanpa kita sadari. Justru karena itu, jangan tunggu sampai fungsinya terganggu baru mulai menjaganya.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia