5 Makanan dan Minuman yang Perlu Diwaspadai, Ada yang Sering Ada di Meja Makan
Makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari bukan hanya berpengaruh terhadap berat badan, gula darah, kolesterol, atau kesehatan jantung. Dalam jangka panjang, pola makan juga dapat berhubungan dengan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker.
Istilah karsinogenik sering kali membuat orang langsung berpikir bahwa suatu makanan pasti menyebabkan kanker. Padahal, istilah tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. Dalam ilmu kesehatan, ada perbedaan antara suatu paparan yang terbukti dapat menyebabkan kanker dan besarnya risiko yang muncul pada seseorang.
Beberapa makanan atau minuman telah dikaitkan dengan kanker berdasarkan penelitian pada manusia. Ada pula makanan yang dapat menghasilkan senyawa tertentu ketika diproses atau dimasak pada suhu sangat tinggi.
Karena itu, bukan berarti seseorang akan terkena kanker hanya karena pernah mengonsumsi makanan tersebut. Risiko kanker dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola makan secara keseluruhan, berat badan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, faktor genetik hingga paparan lingkungan.
Lantas, apa saja makanan dan minuman yang perlu diperhatikan?
1. Daging olahan seperti sosis, ham, dan kornet
Daging olahan menjadi salah satu kelompok makanan yang paling banyak dibahas dalam kaitannya dengan risiko kanker.
Yang termasuk daging olahan antara lain sosis, ham, hot dog, kornet, bacon, daging asap, serta produk daging yang diawetkan melalui proses seperti pengasinan, pengasapan, fermentasi atau pengolahan tertentu untuk meningkatkan rasa dan daya simpan.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau IARC menggolongkan konsumsi daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia (Group 1) berdasarkan bukti yang cukup mengenai kaitannya dengan kanker kolorektal.
Namun, klasifikasi tersebut perlu dipahami dengan benar. Group 1 menunjukkan kekuatan bukti bahwa suatu paparan dapat menyebabkan kanker, bukan berarti tingkat bahayanya sama dengan rokok atau zat karsinogenik lain.
Dalam penilaian IARC, peningkatan risiko kanker kolorektal juga berkaitan dengan jumlah konsumsi. Analisis yang digunakan IARC memperkirakan bahwa konsumsi 50 gram daging olahan setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal sekitar 18 persen.
Angka tersebut bukan berarti setiap orang yang mengonsumsi sosis akan terkena kanker. Risiko individu tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
Bagaimana menyikapinya?
Tidak harus langsung menghilangkan seluruh produk daging dari menu. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi frekuensi konsumsi daging olahan dan lebih sering memilih sumber protein yang minim proses pengawetan.
Ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, serta daging segar yang diolah dengan cara lebih sederhana dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih beragam.
2. Alkohol
Bagi sebagian orang, alkohol mungkin bukan makanan, tetapi merupakan minuman yang perlu diperhatikan ketika membahas risiko kanker.
IARC menyatakan bahwa konsumsi alkohol memiliki hubungan sebab-akibat dengan sejumlah jenis kanker, termasuk kanker rongga mulut, faring, laring, kerongkongan, hati, usus besar dan rektum, serta kanker payudara pada perempuan.
Mengapa alkohol dapat berhubungan dengan kanker?
Salah satu mekanismenya berkaitan dengan etanol dan metabolitnya, terutama asetaldehida. Senyawa tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada materi genetik dan terlibat dalam proses biologis lain yang berhubungan dengan perkembangan kanker.
Risiko juga dapat meningkat seiring bertambahnya jumlah alkohol yang dikonsumsi. Karena itu, semakin sedikit paparan alkohol, semakin rendah pula paparan terhadap faktor risiko tersebut.
Hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa minuman tertentu lebih aman hanya karena berasal dari bahan alami, memiliki kadar alkohol rendah, atau dikonsumsi bersama makanan. Dari sisi pencegahan kanker, kandungan alkohol tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Jika ingin mengurangi risiko
Bagi orang yang tidak minum alkohol, tidak ada alasan kesehatan untuk mulai mengonsumsinya. Sementara bagi mereka yang terbiasa minum, mengurangi frekuensi dan jumlah konsumsi dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan.
3. Ikan yang diawetkan dengan garam dalam bentuk tertentu
Ikan asin tidak otomatis berarti “makanan penyebab kanker”. Namun, ada bentuk tertentu yang memang telah mendapat perhatian khusus dalam penelitian kanker.
IARC mengklasifikasikan Chinese-style salted fish, yaitu jenis ikan yang diawetkan dengan metode tradisional tertentu, sebagai karsinogenik bagi manusia.
Paparan tersebut dikaitkan terutama dengan kanker nasofaring. Proses pengawetan tertentu dapat menyebabkan terbentuknya senyawa seperti N-nitroso yang berpotensi berperan dalam proses karsinogenesis.
Penting dicatat bahwa temuan tersebut tidak berarti semua ikan asin yang dijual atau dikonsumsi masyarakat memiliki tingkat risiko yang sama. Cara pengolahan, bahan yang digunakan, jumlah konsumsi dan karakteristik produk dapat berbeda.
Meski demikian, konsumsi makanan yang sangat tinggi garam memang sebaiknya dibatasi. Pola makan tinggi makanan asin juga dapat berdampak kurang baik terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Pilihan yang lebih sehat
Ikan tetap merupakan sumber protein yang bernilai gizi. Agar manfaatnya lebih optimal, pilih ikan segar atau ikan yang diproses dengan lebih sedikit garam dan tidak terlalu sering mengandalkan produk ikan yang sangat asin sebagai lauk utama.
4. Makanan yang terkontaminasi aflatoksin
Yang satu ini sedikit berbeda.
Masalahnya bukan semata-mata pada bahan makanan tersebut, tetapi pada kontaminasi aflatoksin, yaitu racun yang dapat dihasilkan oleh jenis jamur tertentu.
Aflatoksin dapat ditemukan pada bahan pangan tertentu apabila penyimpanan dan pengolahannya tidak baik, terutama ketika kondisi memungkinkan pertumbuhan jamur.
IARC telah menggolongkan campuran aflatoksin yang terjadi secara alami sebagai karsinogenik bagi manusia. Paparan kronis terhadap aflatoksin terutama menjadi perhatian karena hubungannya dengan kanker hati.
Bahan pangan yang rentan mengalami kontaminasi dapat meliputi kacang-kacangan, biji-bijian dan beberapa bahan pangan lain apabila disimpan dalam kondisi lembap atau tidak sesuai.
Jangan abaikan makanan berjamur
Salah satu kebiasaan yang sebaiknya dihindari adalah tetap mengonsumsi bahan makanan yang sudah terlihat berjamur dengan alasan cukup membuang bagian yang rusak.
Pada beberapa kondisi, masalah tidak selalu terbatas pada bagian yang terlihat oleh mata. Karena itu, makanan yang jelas berjamur, berubah warna secara tidak wajar, berbau mencurigakan atau mengalami kerusakan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Penyimpanan bahan makanan dalam kondisi kering, bersih dan sesuai dapat membantu mengurangi risiko pertumbuhan jamur.
5. Daging yang dimasak sampai sangat gosong atau terkena panas ekstrem
Bukan hanya jenis makanan yang perlu diperhatikan. Cara memasak juga dapat memengaruhi terbentuknya senyawa tertentu.
Ketika daging dimasak pada suhu sangat tinggi, terutama melalui pembakaran langsung, pemanggangan atau penggorengan dengan panas tinggi, dapat terbentuk senyawa seperti heterocyclic aromatic amines atau HCA dan polycyclic aromatic hydrocarbons atau PAH.
Senyawa tersebut memiliki sifat yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kanker.
Semakin lama makanan terkena suhu tinggi dan semakin gosong permukaannya, semakin banyak senyawa hasil reaksi panas tertentu yang dapat terbentuk.
Meski demikian, bukan berarti Anda harus menghindari semua makanan panggang. Yang lebih penting adalah memperhatikan teknik memasak dan tidak menjadikan makanan yang sangat gosong sebagai kebiasaan.
Bagaimana memasak daging dengan lebih bijak?
Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan:
- Hindari membakar daging sampai permukaannya hangus.
- Jangan memasak menggunakan suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama.
- Balik makanan secara berkala agar tidak terlalu gosong pada satu sisi.
- Potong dan buang bagian yang benar-benar hangus sebelum dimakan.
- Variasikan metode memasak dengan merebus, mengukus atau memanggang secara lebih terkendali.
- Sertakan sayuran, buah dan sumber serat lainnya dalam pola makan sehari-hari.
Apakah berarti semua makanan di atas harus dihindari?
Tidak sesederhana itu.
Kata “karsinogenik” tidak boleh dipahami sebagai “sekali makan langsung menyebabkan kanker.” Dalam epidemiologi kanker, tingkat risiko sangat bergantung pada jenis paparan, jumlah, frekuensi, durasi serta faktor lain yang dimiliki seseorang.
Contohnya, IARC menggolongkan daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia berdasarkan kekuatan bukti ilmiah. Namun, klasifikasi tersebut tidak berarti risiko konsumsi daging olahan setara dengan risiko merokok.
Begitu juga dengan daging merah. IARC menggolongkannya sebagai probably carcinogenic to humans atau Group 2A, dengan bukti yang lebih terbatas dibandingkan daging olahan.
Artinya, pembaca sebaiknya tidak langsung menarik kesimpulan bahwa satu jenis makanan merupakan satu-satunya penyebab kanker.
Pola makan secara keseluruhan tetap lebih penting
Salah satu kesalahan dalam membahas makanan dan kanker adalah hanya berfokus pada satu bahan makanan.
Padahal, pola makan seseorang terdiri dari berbagai jenis makanan yang dikonsumsi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Pola makan yang lebih banyak mengandung sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh dan sumber serat, sekaligus membatasi makanan tinggi garam, daging olahan serta makanan dan minuman tinggi kalori, dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan.
Menjaga berat badan tetap sehat, aktif bergerak, tidak merokok dan membatasi alkohol juga merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko kanker.
Dengan kata lain, tidak ada satu makanan ajaib yang bisa menjamin seseorang terbebas dari kanker. Begitu pula tidak ada satu makanan yang secara otomatis membuat seseorang terkena kanker hanya karena sesekali mengonsumsinya.
Waspadai kebiasaan, bukan sekadar satu kali makan
Jika salah satu makanan dalam daftar tersebut merupakan makanan favorit, tidak perlu langsung panik.
Yang lebih penting adalah melihat seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi dan seperti apa pola makan secara keseluruhan.
Sosis yang sesekali dimakan tentu berbeda dengan menjadikannya lauk utama setiap hari. Daging panggang juga berbeda antara dimasak matang dengan permukaan kecokelatan dan dibakar sampai sebagian besar permukaannya hangus.
Begitu pula makanan yang berpotensi terkontaminasi jamur. Masalah utamanya bukan sekadar jenis bahan makanannya, tetapi kualitas, penyimpanan dan keamanan bahan tersebut.
Pendekatan seperti ini jauh lebih masuk akal daripada menganggap semua makanan tertentu sebagai “racun”.
Kesimpulan
Ada sejumlah makanan dan minuman yang perlu diperhatikan ketika membahas risiko kanker. Daging olahan dan alkohol memiliki bukti kuat terkait kanker, sementara ikan yang diawetkan dengan metode tertentu, paparan aflatoksin, serta senyawa yang terbentuk ketika makanan dimasak pada suhu sangat tinggi juga menjadi perhatian dalam penelitian kanker.
Namun, istilah karsinogenik harus dipahami berdasarkan konteks ilmiahnya. Bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Langkah yang lebih penting adalah membangun pola makan yang beragam, memperbanyak makanan minim proses, mengurangi daging olahan dan makanan sangat asin, menghindari alkohol, menjaga keamanan penyimpanan makanan, serta tidak membakar makanan sampai hangus.
Pada akhirnya, kesehatan tidak ditentukan oleh satu kali makan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali justru menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia