Tekanan darah tinggi bisa berkembang tanpa disadari dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal. Kenali enam faktor risiko hipertensi menurut WHO dan langkah pencegahannya.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini sering disebut sebagai pembunuh senyap karena banyak penderitanya tidak merasakan keluhan khusus, meskipun tekanan darah sudah berada di atas batas normal.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sekitar 1,4 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di seluruh dunia mengalami hipertensi pada 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang besar.
Hipertensi terjadi ketika tekanan darah pada pembuluh darah terlalu tinggi. Jika berlangsung dalam waktu lama dan tidak ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, hingga kerusakan ginjal.
Ada banyak faktor yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah. Sebagian berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, sedangkan sebagian lainnya dipengaruhi usia, keturunan, dan kondisi kesehatan tertentu.
Lantas, apa saja penyebab atau faktor risiko hipertensi yang perlu diwaspadai menurut WHO? Berikut enam kelompok faktor penting yang sebaiknya Anda kenali.
1. Terlalu banyak mengonsumsi garam dan makanan tidak sehat
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam merupakan salah satu faktor risiko hipertensi yang paling penting untuk diperhatikan.
Garam mengandung natrium. Jika asupan natrium terlalu tinggi, tubuh dapat menahan lebih banyak cairan sehingga volume darah meningkat. Kondisi tersebut dapat membuat tekanan pada dinding pembuluh darah menjadi lebih tinggi, terutama pada orang yang sensitif terhadap natrium.
Makanan sehari-hari yang sering menyumbang asupan garam berlebihan antara lain:
- Mi instan dan makanan cepat saji.
- Ikan asin dan makanan yang diawetkan.
- Keripik, camilan asin, serta makanan ringan kemasan.
- Sosis, nugget, dan daging olahan.
- Makanan kaleng dan saus dengan kandungan natrium tinggi.
- Makanan restoran yang menggunakan banyak garam atau penyedap.
Selain garam, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans serta rendah buah dan sayuran juga dapat meningkatkan risiko masalah kardiovaskular, termasuk hipertensi.
WHO menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 miligram natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam. Jumlah tersebut mencakup natrium dari seluruh makanan dan minuman, bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak.
Untuk membantu menjaga tekanan darah, biasakan membaca label kandungan natrium pada kemasan, mengurangi makanan olahan, dan memperbanyak konsumsi buah serta sayuran.
2. Kurang bergerak dan jarang melakukan aktivitas fisik
Kebiasaan duduk terlalu lama dan jarang berolahraga juga dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Ketika tubuh bergerak secara teratur, jantung dapat bekerja lebih efisien dalam memompa darah. Aktivitas fisik juga membantu mengendalikan berat badan serta meningkatkan kebugaran secara keseluruhan.
Sebaliknya, gaya hidup yang terlalu banyak duduk dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, gangguan metabolisme, dan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi.
Kebiasaan yang perlu diwaspadai meliputi:
- Terlalu lama duduk di depan komputer.
- Jarang berjalan kaki.
- Menghabiskan sebagian besar waktu luang dengan menonton televisi.
- Tidak memiliki rutinitas olahraga.
- Lebih sering menggunakan kendaraan meskipun jarak tujuan cukup dekat.
WHO menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang setidaknya 150 menit setiap minggu atau aktivitas intensitas tinggi selama 75 menit per minggu. Latihan penguatan otot juga dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.
Tidak harus langsung melakukan olahraga berat. Jalan cepat, bersepeda, berenang, menari, atau berkebun dapat menjadi pilihan aktivitas yang lebih mudah dilakukan secara rutin.
Hal terpenting adalah mengurangi waktu duduk dan membangun kebiasaan aktif sesuai kemampuan serta kondisi kesehatan.
3. Kelebihan berat badan dan obesitas
Berat badan berlebih dan obesitas merupakan faktor risiko penting yang berkaitan dengan hipertensi.
Ketika jumlah lemak tubuh meningkat, jantung dapat bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh jaringan tubuh. Perubahan metabolisme dan fungsi pembuluh darah juga dapat ikut berperan dalam meningkatkan tekanan darah.
Selain itu, obesitas sering berkaitan dengan masalah kesehatan lain, seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, gangguan lemak darah, dan sleep apnea. Kondisi-kondisi tersebut dapat memperburuk risiko penyakit kardiovaskular.
Beberapa kebiasaan yang dapat mendorong kenaikan berat badan antara lain:
- Sering mengonsumsi makanan tinggi kalori.
- Terlalu banyak minum minuman manis.
- Jarang melakukan aktivitas fisik.
- Sering mengonsumsi makanan cepat saji.
- Kurang memperhatikan porsi makan.
- Memiliki pola tidur yang tidak teratur.
Menjaga berat badan tetap sehat dapat membantu mengurangi risiko hipertensi. Namun, penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang konsisten.
Tidak perlu menjalani diet ekstrem. Mengurangi minuman manis, memperbanyak sayuran, mengatur porsi makan, serta berjalan kaki secara rutin dapat menjadi langkah awal yang bermanfaat.
4. Kebiasaan merokok dan paparan tembakau
Merokok merupakan kebiasaan yang dapat memberikan dampak buruk bagi jantung dan pembuluh darah.
Nikotin dalam rokok dapat merangsang pelepasan zat kimia tertentu yang membuat denyut jantung meningkat dan pembuluh darah menyempit. Akibatnya, tekanan darah dapat naik sementara setelah seseorang merokok.
Paparan asap rokok juga dapat merusak lapisan pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis, yaitu penumpukan plak yang membuat pembuluh darah menjadi lebih sempit dan kaku.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan tekanan darah. Merokok juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, kanker paru-paru, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
Perokok pasif pun perlu mendapatkan perhatian karena menghirup asap rokok dari lingkungan dapat membahayakan kesehatan.
Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi jantung dan pembuluh darah. Jika kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut, konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan bantuan yang sesuai.
5. Mengonsumsi alkohol secara berlebihan
Konsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Alkohol dapat memengaruhi sistem saraf, hormon, dan mekanisme pengaturan pembuluh darah. Jika dikonsumsi terlalu banyak atau terlalu sering, tekanan darah dapat meningkat dan risiko penyakit jantung ikut bertambah.
Risiko ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah alkohol dalam satu waktu, tetapi juga pola konsumsi dalam jangka panjang.
Selain hipertensi, konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan hati, gangguan irama jantung, serta masalah kesehatan lainnya.
Mengurangi atau menghindari alkohol merupakan langkah yang baik untuk menjaga kesehatan. WHO juga menekankan bahwa konsumsi alkohol memiliki risiko kesehatan dan tidak ada alasan kesehatan untuk mulai meminumnya.
Bagi orang yang sudah memiliki hipertensi, sebaiknya diskusikan kebiasaan konsumsi alkohol dengan dokter agar dapat memperoleh saran sesuai kondisi masing-masing.
6. Usia, faktor keturunan, dan penyakit tertentu
Tidak semua faktor risiko hipertensi dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Usia, riwayat keluarga, dan kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami tekanan darah tinggi.
Usia yang semakin bertambah
Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah dapat mengalami perubahan struktur dan menjadi lebih kaku. Kondisi ini dapat membuat tekanan darah meningkat.
Risiko hipertensi umumnya lebih tinggi pada kelompok usia lanjut, tetapi bukan berarti orang yang lebih muda terbebas dari masalah tersebut.
Riwayat hipertensi dalam keluarga
Faktor genetik turut memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami tekanan darah tinggi. Jika orang tua atau anggota keluarga dekat memiliki hipertensi, risiko seseorang dapat menjadi lebih tinggi.
Namun, faktor keturunan bukan berarti hipertensi pasti terjadi. Kebiasaan sehat tetap berperan penting dalam membantu mengurangi risiko.
Diabetes dan penyakit ginjal
WHO juga memasukkan penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit ginjal sebagai faktor yang tidak dapat diabaikan.
Diabetes dapat berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah dan gangguan metabolisme. Sementara itu, ginjal berperan mengatur keseimbangan cairan dan natrium dalam tubuh. Ketika fungsi ginjal terganggu, pengaturan tekanan darah juga dapat ikut terpengaruh.
Orang dengan diabetes, penyakit ginjal, atau riwayat keluarga hipertensi sebaiknya lebih rutin memeriksa tekanan darah dan menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai anjuran dokter.
Mengapa hipertensi sering tidak disadari?
Salah satu alasan hipertensi berbahaya adalah banyak penderitanya tidak mengalami gejala yang jelas.
Seseorang dapat terlihat sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, padahal tekanan darahnya sudah tinggi. Karena itu, mengandalkan rasa pusing atau sakit kepala saja tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hipertensi.
Tekanan darah perlu diukur menggunakan alat yang sesuai. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan atau menggunakan alat pengukur tekanan darah di rumah dengan teknik yang benar.
Menurut WHO, hipertensi pada orang dewasa umumnya didiagnosis apabila hasil pengukuran menunjukkan tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih pada pemeriksaan di dua hari yang berbeda.
Hasil pengukuran perlu dinilai oleh tenaga kesehatan dengan mempertimbangkan kondisi pasien dan pedoman yang berlaku.
Apa bahaya hipertensi jika dibiarkan?
Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat memberikan beban berlebihan pada jantung dan pembuluh darah. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.
Berikut beberapa risiko yang perlu diketahui:
1. Penyakit jantung
Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penebalan otot jantung, gagal jantung, dan penyakit jantung lainnya.
2. Stroke
Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di otak. Pembuluh darah dapat tersumbat atau pecah sehingga menyebabkan stroke.
3. Kerusakan ginjal
Pembuluh darah kecil di ginjal dapat mengalami kerusakan akibat tekanan yang terlalu tinggi. Jika berlangsung lama, kemampuan ginjal menyaring darah dapat menurun.
4. Gangguan penglihatan
Hipertensi dapat merusak pembuluh darah pada retina. Kondisi tersebut dikenal sebagai retinopati hipertensi dan dapat mengganggu penglihatan.
5. Gangguan pembuluh darah
Tekanan darah yang tidak terkendali dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan sirkulasi.
Komplikasi tersebut tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Namun, risiko dapat meningkat jika tekanan darah tinggi berlangsung lama tanpa penanganan yang tepat.
Cara mencegah hipertensi menurut anjuran WHO
Meskipun terdapat faktor yang tidak dapat diubah, risiko hipertensi dapat dikurangi melalui kebiasaan hidup sehat.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:
1. Kurangi konsumsi garam
Batasi makanan asin, makanan olahan, dan makanan kemasan yang mengandung natrium tinggi. Biasakan memeriksa informasi gizi pada label produk.
2. Perbanyak buah dan sayuran
Buah dan sayuran menyediakan serat, kalium, serta berbagai zat gizi yang mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah.
3. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Usahakan bergerak setiap hari. Jalan cepat selama beberapa puluh menit dapat menjadi pilihan sederhana untuk memulai kebiasaan aktif.
4. Pertahankan berat badan sehat
Atur pola makan dan aktivitas fisik agar berat badan tetap berada dalam rentang yang sesuai dengan kondisi tubuh.
5. Hindari rokok dan batasi paparan asapnya
Berhenti merokok membantu melindungi pembuluh darah dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
6. Hindari konsumsi alkohol berlebihan
Menghindari alkohol merupakan pilihan yang baik untuk mengurangi salah satu faktor risiko tekanan darah tinggi.
7. Periksa tekanan darah secara berkala
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi hipertensi lebih awal, bahkan ketika belum ada gejala.
8. Ikuti pengobatan jika sudah didiagnosis
Orang yang telah didiagnosis hipertensi perlu mengikuti anjuran dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri hanya karena tekanan darah sudah membaik.
Kapan penderita hipertensi harus segera mencari pertolongan?
Tekanan darah yang sangat tinggi perlu ditangani dengan serius, terutama jika disertai gejala tertentu.
Jika hasil pengukuran mencapai sekitar 180/120 mmHg atau lebih, ulangi pengukuran setelah beristirahat sejenak. Jika hasil tetap sangat tinggi, segera hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan arahan.
Apabila tekanan darah sangat tinggi disertai nyeri dada, sesak napas, kelemahan atau mati rasa mendadak, gangguan penglihatan, kebingungan, atau sakit kepala hebat, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu gejala menghilang dengan sendirinya.
Kesimpulan
Hipertensi tidak muncul karena satu penyebab saja. Menurut WHO, risiko tekanan darah tinggi berkaitan dengan pola makan tidak sehat, konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta faktor usia, keturunan, dan penyakit tertentu.
Kabar baiknya, banyak faktor risiko tersebut dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup. Mulailah dengan membatasi garam, memperbanyak buah dan sayuran, rutin bergerak, menjaga berat badan, serta menghindari rokok.
Jangan menunggu munculnya keluhan untuk memeriksa tekanan darah. Pemeriksaan berkala dan penanganan yang tepat merupakan langkah penting untuk membantu mencegah komplikasi hipertensi, termasuk penyakit jantung, stroke, dan kerusakan ginjal.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia