Makanan Olahan hingga Gula, Ini 7 Jenis Makanan yang Perlu Diwaspadai pada Autoimun
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan dan justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Kondisinya sangat beragam, mulai dari rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, penyakit Hashimoto, hingga beberapa penyakit autoimun yang menyerang saluran pencernaan.
Di tengah pembahasan mengenai autoimun, pola makan menjadi salah satu hal yang sering diperhatikan. Bukan tanpa alasan. Apa yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi berat badan, kesehatan metabolik, kondisi saluran pencernaan, hingga proses peradangan di dalam tubuh.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.
Tidak tepat jika satu jenis makanan disebut sebagai penyebab langsung penyakit autoimun. Autoimun merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi kombinasi faktor genetik, sistem kekebalan, lingkungan, infeksi tertentu, hormon, serta berbagai faktor lainnya.
Meski demikian, pola makan yang didominasi makanan ultra-proses, tinggi gula, tinggi garam, atau tinggi lemak tertentu dapat menjadi perhatian karena berhubungan dengan kualitas diet dan proses peradangan.
Karena itu, bagi orang dengan penyakit autoimun, mengenali makanan yang sebaiknya dibatasi bisa menjadi langkah untuk membantu membangun pola makan yang lebih seimbang.
Lantas, apa saja makanan yang perlu diperhatikan?
1. Makanan ultra-proses
Makanan ultra-proses menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendapat perhatian dalam penelitian mengenai pola makan dan peradangan.
Contohnya cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mi instan, makanan ringan kemasan, daging olahan, makanan siap santap, minuman berpemanis, kue kemasan, biskuit tertentu, dan berbagai produk yang memiliki banyak bahan tambahan.
Bukan berarti semua makanan yang melalui proses pengolahan otomatis berbahaya.
Masalahnya lebih berkaitan dengan pola konsumsi. Jika makanan ultra-proses terlalu sering menggantikan makanan segar atau minim proses, seseorang bisa mendapatkan lebih banyak gula tambahan, garam, lemak jenuh, kalori, dan lebih sedikit serat serta zat gizi dari makanan utuh.
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan penanda peradangan dan berbagai gangguan kesehatan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti makanan ultra-proses terbukti menjadi penyebab tunggal penyakit autoimun.
Bagi penderita autoimun, langkah yang lebih realistis bukan harus menghapus seluruh makanan kemasan, tetapi mengurangi frekuensinya dan lebih sering memilih makanan segar.
Pilihan yang lebih baik: sayuran, buah, kacang-kacangan, ikan, telur, biji-bijian utuh, serta makanan rumahan dengan bahan yang lebih sederhana.
2. Daging olahan
Sosis, nugget, ham, bacon, kornet, salami, dan berbagai produk daging olahan sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Produk tersebut biasanya mengalami proses pengolahan yang panjang dan dapat mengandung garam dalam jumlah cukup tinggi. Beberapa produk juga memiliki kandungan lemak jenuh yang perlu diperhatikan.
Jika dikonsumsi sesekali dalam porsi wajar, bukan berarti seseorang otomatis mengalami gangguan autoimun.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan daging olahan sebagai sumber protein utama setiap hari.
Untuk penderita autoimun, sumber protein dapat dibuat lebih beragam. Ikan, ayam tanpa kulit, telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, dan sumber protein lain dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan.
Mengurangi daging olahan juga membantu seseorang memperbanyak makanan yang lebih dekat dengan bentuk alaminya.
3. Makanan dan minuman tinggi gula tambahan
Gula tambahan sering kali masuk ke tubuh tanpa disadari.
Selain dari gula pasir, asupan gula dapat berasal dari minuman manis, teh kemasan, kopi dengan sirup, minuman bersoda, kue, donat, biskuit, dessert, dan berbagai makanan ringan.
Konsumsi gula berlebihan dapat menyulitkan pengendalian berat badan dan kesehatan metabolik. Dalam pola makan secara keseluruhan, asupan gula yang tinggi juga sering berjalan bersama konsumsi makanan ultra-proses.
Bagi penderita autoimun, mengurangi gula bukan berarti harus menghilangkan semua makanan yang memiliki rasa manis.
Buah utuh tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat karena selain mengandung gula alami, buah juga menyediakan serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa tanaman.
Yang lebih perlu dibatasi adalah gula tambahan, terutama dari minuman dan makanan yang dikonsumsi berulang kali sepanjang hari.
Cara sederhana mengurangi gula
Mulailah dengan memperhatikan minuman.
Jika biasanya minum teh atau kopi dengan beberapa sendok gula, kurangi secara bertahap. Ganti minuman manis dengan air putih, teh tanpa gula, atau kopi tanpa tambahan gula berlebihan.
Kebiasaan kecil seperti ini dapat memberikan perubahan besar jika dilakukan secara konsisten.
4. Karbohidrat olahan
Roti putih, kue, biskuit, pastry, mi berbahan tepung olahan, dan berbagai makanan berbasis tepung dapat menjadi bagian dari pola makan, tetapi sebaiknya tidak mendominasi menu sehari-hari.
Karbohidrat olahan umumnya memiliki kandungan serat lebih rendah dibandingkan sumber karbohidrat utuh.
Padahal, serat sangat penting untuk kesehatan pencernaan dan mendukung kehidupan mikroorganisme baik di dalam usus.
Pola makan yang lebih banyak mengandung makanan utuh dapat membantu seseorang memperoleh serat dan zat gizi yang lebih beragam.
Sebagai contoh, sebagian sumber karbohidrat dapat diganti atau divariasikan dengan beras merah, oat, jagung, ubi, kentang, singkong, atau biji-bijian utuh.
Bukan berarti penderita autoimun harus menghindari nasi atau semua jenis karbohidrat.
Kuncinya adalah jenis, jumlah, frekuensi, dan keseimbangan menu secara keseluruhan.
5. Makanan yang digoreng secara berlebihan
Gorengan memang sulit ditolak. Tempe goreng, tahu goreng, bakwan, pisang goreng, ayam goreng, dan berbagai makanan lainnya sangat mudah ditemukan.
Masalahnya muncul ketika makanan yang digoreng menjadi menu utama hampir setiap hari.
Proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan energi makanan. Selain itu, kualitas minyak dan cara penggunaannya juga perlu diperhatikan.
Minyak yang digunakan berulang kali atau mengalami pemanasan berlebihan bukan pilihan yang baik untuk pola makan sehat.
Bagi penderita autoimun, mengurangi makanan yang digoreng bukan berarti harus berhenti makan makanan lezat.
Gunakan metode memasak lain seperti kukus, rebus, panggang, tumis dengan sedikit minyak, atau air fryer jika tersedia.
Variasi cara memasak dapat membantu mengurangi ketergantungan pada makanan yang digoreng.
6. Makanan sangat tinggi garam
Garam memang diperlukan tubuh dalam jumlah tertentu. Namun, konsumsi natrium berlebihan dapat menjadi masalah bagi kesehatan, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.
Sumber natrium bukan hanya garam dapur. Mi instan, makanan kemasan, keripik, saus, makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan, dan berbagai makanan siap santap juga dapat menyumbang natrium.
Penderita penyakit autoimun yang juga memiliki tekanan darah tinggi tentu perlu lebih memperhatikan asupan garam.
Mengurangi makanan tinggi natrium juga tidak harus dilakukan secara ekstrem.
Mulailah dengan mengurangi makanan instan, mencicipi makanan sebelum menambahkan garam, serta memilih bahan makanan segar dan memasaknya sendiri ketika memungkinkan.
Gunakan rempah seperti bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe, lada, ketumbar, atau perasan jeruk untuk memperkaya rasa.
7. Gluten, tetapi hanya perlu diperhatikan pada kondisi tertentu
Gluten sering kali menjadi bahan yang paling banyak dibicarakan ketika membahas makanan dan autoimun.
Namun, tidak semua penderita penyakit autoimun harus menghindari gluten.
Gluten merupakan protein yang terdapat pada gandum dan beberapa jenis serealia. Pada penderita penyakit celiac, gluten memang dapat memicu respons imun yang merusak lapisan usus.
Situasinya berbeda pada penyakit autoimun lainnya.
Ada orang yang merasa gejalanya membaik setelah mengurangi makanan tertentu, tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis berlaku bagi semua penderita autoimun.
Karena itu, jangan langsung menghapus semua makanan mengandung gluten tanpa alasan yang jelas.
Diet bebas gluten juga bukan berarti otomatis lebih sehat. Banyak produk bebas gluten kemasan justru dapat mengandung gula, lemak, garam, atau bahan tambahan lainnya.
Jika seseorang mencurigai adanya masalah terhadap gluten, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter atau ahli gizi lebih tepat dibandingkan melakukan pantangan secara sembarangan.
Apakah Semua Penderita Autoimun Harus Menghindari Makanan Ini?
Jawabannya tidak.
Ini merupakan bagian penting yang sering terlewat ketika membahas makanan dan autoimun.
Penyakit autoimun bukan satu penyakit dengan satu penyebab dan satu pola makan.
Seseorang dengan rheumatoid arthritis belum tentu memiliki pantangan makanan yang sama dengan penderita penyakit celiac. Begitu pula kebutuhan nutrisi penderita lupus dapat berbeda dari orang dengan penyakit autoimun lainnya.
Respons tubuh terhadap makanan juga berbeda.
Ada makanan yang tidak menimbulkan masalah pada seseorang tetapi menyebabkan gangguan pencernaan atau keluhan tertentu pada orang lain.
Karena itu, daftar makanan di atas sebaiknya digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi pola makan, bukan sebagai daftar larangan mutlak.
Mengapa Makanan Ultra-Proses Sering Dikaitkan dengan Peradangan?
Makanan ultra-proses menjadi perhatian bukan hanya karena satu bahan tertentu.
Kelompok makanan ini sering memiliki kombinasi gula tambahan, garam, lemak, bahan tambahan, serta kandungan serat yang relatif rendah.
Jika dikonsumsi dalam jumlah tinggi, makanan tersebut dapat menggantikan makanan yang lebih kaya serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif.
Sejumlah penelitian juga sedang mengevaluasi bagaimana pola makan tinggi makanan ultra-proses mungkin berhubungan dengan mikrobiota usus dan regulasi sistem imun.
Namun, penelitian mengenai hubungan langsung antara makanan ultra-proses dan penyakit autoimun masih berkembang. Jadi, klaim bahwa makanan olahan secara langsung menyebabkan semua penyakit autoimun terlalu sederhana.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah mengurangi konsumsi makanan ultra-proses sambil meningkatkan kualitas pola makan secara keseluruhan.
Lalu, Apa yang Sebaiknya Lebih Banyak Dikonsumsi?
Jika ingin mengurangi makanan yang berpotensi memperburuk kualitas pola makan, jangan hanya berfokus pada makanan yang harus dihindari.
Perhatikan juga apa yang perlu ditambahkan.
Sayuran dapat menjadi bagian penting dari menu harian. Pilih berbagai warna agar asupan zat gizi dan senyawa tanaman lebih beragam.
Buah utuh juga dapat dikonsumsi dalam porsi yang sesuai.
Sumber protein seperti ikan, telur, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan dapat membantu memenuhi kebutuhan protein.
Untuk sumber lemak, pilih lebih banyak lemak tak jenuh yang berasal dari ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, atau minyak nabati yang digunakan secara wajar.
Sementara itu, sumber karbohidrat utuh dapat membantu meningkatkan asupan serat.
Pola makan seperti ini lebih dekat dengan prinsip makanan minim proses dan seimbang.
5 Kebiasaan Makan yang Bisa Membantu Penderita Autoimun
Selain mengurangi makanan tertentu, ada beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan.
1. Utamakan makanan segar
Semakin sering memasak menggunakan bahan segar, semakin mudah mengontrol jumlah garam, gula, minyak, dan bahan tambahan.
2. Jangan terpaku pada satu makanan
Tubuh membutuhkan berbagai zat gizi. Jangan hanya mengandalkan satu jenis buah, sayuran, atau suplemen.
3. Perhatikan respons tubuh
Catat makanan yang dikonsumsi dan keluhan yang muncul jika memang ada pola yang berulang.
Catatan tersebut dapat menjadi bahan diskusi dengan dokter atau ahli gizi.
4. Jangan langsung mengikuti diet ekstrem
Diet yang menghilangkan banyak kelompok makanan tanpa alasan medis dapat menyebabkan kekurangan nutrisi.
5. Fokus pada pola makan jangka panjang
Pola makan sehat bukan program tiga hari atau satu minggu.
Yang lebih penting adalah kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Jika seseorang sudah didiagnosis memiliki penyakit autoimun, perubahan pola makan sebaiknya tidak dilakukan secara ekstrem tanpa mempertimbangkan kondisi medis.
Terlebih jika sedang mengonsumsi obat tertentu, mengalami penurunan berat badan yang tidak direncanakan, gangguan pencernaan berkepanjangan, atau memiliki penyakit lain seperti diabetes, penyakit ginjal, atau tekanan darah tinggi.
Dokter dan ahli gizi dapat membantu menentukan pola makan yang sesuai dengan diagnosis dan kebutuhan individu.
Jangan menghentikan obat hanya karena merasa kondisi membaik setelah mengubah pola makan.
Pola makan dapat menjadi bagian dari pengelolaan kesehatan, tetapi tidak menggantikan terapi medis yang sudah diresepkan.
Kesimpulan
Istilah “7 makanan penyebab autoimun” sebenarnya perlu dipahami dengan hati-hati. Tidak ada satu makanan yang secara sederhana dapat disebut sebagai penyebab tunggal penyakit autoimun.
Namun, ada sejumlah kelompok makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan, terutama jika seseorang ingin menjaga kualitas pola makan dan mengurangi faktor yang dapat berkaitan dengan peradangan.
Makanan ultra-proses, daging olahan, makanan dan minuman tinggi gula tambahan, karbohidrat olahan, makanan yang terlalu sering digoreng, makanan tinggi garam, serta gluten pada kondisi tertentu merupakan kelompok yang layak diperhatikan.
Khusus gluten, pembatasan tidak berlaku untuk semua penderita autoimun dan sangat penting membedakan penyakit celiac dari penyakit autoimun lainnya.
Pada akhirnya, pola makan yang lebih banyak mengandalkan makanan segar, sayuran, buah, sumber protein berkualitas, biji-bijian utuh, serta lemak sehat dapat menjadi dasar kebiasaan makan yang lebih baik.
Bukan mencari satu makanan yang harus ditakuti, tetapi membangun pola makan yang lebih seimbang dan sesuai dengan kondisi tubuh.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia