
Jakarta – Pakar Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University Prof. Lala M Kolopaking memberikan saran atas banyaknya siswa Sekolah Rakyat yang mengundurkan diri.
Menurut Lala, masalah ini menunjukkan perlunya pendekatan sosial budaya yang lebih mendalam serta pelibatan masyarakat secara partisipatif sejak awal.
“Program Sekolah Rakyat itu tujuannya sangat baik, ingin membantu masyarakat yang kurang mampu. Akan tetapi mestinya ada pemetaan sosial budaya terlebih dahulu, agar program ini menyentuh kebutuhan dan karakter masyarakat setempat,” kata Lala dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (12/8/2025).
Lala mengatakan, dalam masalah ini penting untuk membuat masyarakat subjek dan tidak hanya dijadikan sebagai objek penerima manfaat Sekolah Rakyat.
Absennya pendekatan partisipatif bisa jadi penyebab utama
Ia menilai, absennya pendekatan partisipatif bisa menjadi penyebab utama ketidakbetahan siswa di sekolah sehingga mereka lebih memilih mengundurkan diri.
“Ini sinyal bahwa membuat program yang baik itu tidak cukup hanya dengan niat, tapi harus dialokasikan pada masyarakat sekitar dengan pendekatan dialog. Jadi ada dialog yang dibangun, sehingga mereka paham,” ujarnya.
“Kalau katanya tidak betah, boleh jadi orang yang sekolah di situ memang jauh dari budaya lokal. Bisa jadi mereka mengalami homesick,” lanjut dia.
Lala menambahkan, sebenarnya sekolah berasrama yang digunakan Sekolah Rakyat cocok untuk anak-anak dari keluarga rentan di desa tetapi adaptasi menjadi tantangan besar dalam model ini.
Meski demikian, kunci keberhasilan sekolah berasrama, menurut Lala terletak pada proses awal dialog, pemetaan sosial, serta seleksi siswa yang mempertimbangkan kondisi sosial budaya mereka.
“Selama prosesnya dilakukan dengan melibatkan masyarakat sejak awal, sekolahnya akan lebih mudah diterima. Jangan sampai semuanya diputuskan dari atas tanpa mempertimbangkan kompetensi dan kecerdasan kontekstual yang akan dicapai,” ungkapnya.
Selain itu, Lala juga menekankan pentingnya kejelasan definisi tidak mampu dan relevansi kurikulum dengan potensi ekonomi lokal.
Ia mencontohkan, sekolah di daerah perkebunan karet sebaiknya mengajarkan materi umum dan mengenalkan keterampilan seputar industrialisasi karet.
Sementara sekolah di wilayah pesisir mendapat fokus tambahan pada industrialisasi sektor maritim.
“Agar sejak awal sekolah itu tahu berkesadaran untuk menjadi penggerak ekonomi lokal dan hidupnya sendiri,” jelas Lala.

Siswa sekolah rakyat banyak yang mengundurkan diri
Sebelumnya diberitakan, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengatakan, siswa Sekolah Rakyat yang paling banyak mengundurkan diri berasal dari Jawa dan Sulawesi.
Setelah Jawa-Sulawesi, daerah dengan siswa Sekolah Rakyat mengundurkan diri terbanyak adalah Sumatera dan Kalimantan.
“Di Kalimantan ada 10 siswa, di Sumatera 26 siswa, di Jawa dan Sulawesi masing-masing 35 siswa. Di Bali dan Nusa Tenggara 4 siswa, dan di Maluku 5 siswa yang mengundurkan diri,” kata Gus Ipul dikutip dari Kompas.com, Senin (4/8/2025).
“Di Papua, Alhamdulillah tidak ada,” lanjut dia.
Gus Ipul menjelaskan, saat ini tercatat ada 115 orang siswa yang mengundurkan diri atau sekitar 1,4 persen dari total siswa Sekolah Rakyat yakni sebesar 9.705 orang.
Gus Ipul pun menegaskan, siswa yang mengundurkan diri juga telah dicarikan gantinya dengan siswa lain yang bersedia masuk ke Sekolah Rakyat.