Tidak semua suplemen dan produk herbal aman bagi penderita hipertensi. Beberapa bahan dapat menaikkan tekanan darah atau mengganggu kerja obat. Kenali kandungannya sebelum mengonsumsi.
Punya tekanan darah tinggi bukan berarti harus menghindari semua suplemen. Namun, pemilihannya memang tidak boleh sembarangan. Ada sejumlah bahan dalam suplemen dan produk herbal yang dapat meningkatkan tekanan darah, memengaruhi denyut jantung, atau berinteraksi dengan obat yang digunakan untuk mengendalikan hipertensi.
Masalahnya, label “alami” sering membuat orang menganggap suatu produk pasti aman.
Padahal, suplemen dapat mengandung ekstrak tanaman, stimulan, mineral, vitamin dalam dosis tinggi, atau campuran berbagai bahan aktif. Efeknya pun bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya.
National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menyebut beberapa bahan seperti licorice root, ephedra, ginseng, dan bitter orange dapat menjadi perhatian pada penderita tekanan darah tinggi. Suplemen tertentu juga dapat berinteraksi dengan obat hipertensi.
Lantas, apa saja suplemen yang perlu diwaspadai?
1. Suplemen licorice atau akar manis
Licorice atau akar manis mungkin terdengar tidak berbahaya karena berasal dari tanaman. Namun, ekstrak licorice yang mengandung glycyrrhizin justru dapat menjadi masalah bagi orang dengan tekanan darah tinggi.
Glycyrrhizin dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Dalam jumlah besar atau penggunaan jangka panjang, licorice dapat menyebabkan efek serius, termasuk gangguan irama jantung.
NCCIH bahkan mencatat bahwa efek buruk dari glycyrrhizin dapat terjadi pada orang dengan hipertensi, terutama jika konsumsi licorice cukup tinggi atau berlangsung lama.
Bukan hanya tekanan darah yang perlu diperhatikan.
Licorice juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat. American Heart Association mencatat bahwa licorice dapat mengurangi efek sebagian obat penurun tekanan darah dan obat diuretik tertentu.
Apa yang perlu diperhatikan?
Jika menemukan suplemen dengan tulisan:
- Licorice root
- Licorice extract
- Glycyrrhiza
- Glycyrrhizin
penderita hipertensi sebaiknya tidak langsung mengonsumsinya tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Perlu dibedakan antara licorice sebagai bahan makanan dalam jumlah kecil dan ekstrak licorice dalam suplemen, karena konsentrasi bahan aktifnya dapat berbeda.
2. Ephedra atau Ma Huang
Nama ephedra mungkin tidak terlalu familiar bagi sebagian orang. Namun, bahan ini pernah digunakan dalam produk penurun berat badan dan peningkat energi.
Ephedra mengandung senyawa stimulan yang dapat meningkatkan tekanan darah dan memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular.
NCCIH mencatat bahwa suplemen yang mengandung alkaloid ephedrine dari ephedra pernah dikaitkan dengan risiko serius, termasuk tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, dan kejang. Di Amerika Serikat, penjualan suplemen yang mengandung alkaloid ephedrine telah dilarang sejak 2004 karena alasan keamanan.
Karena itu, bahan seperti Ephedra sinica atau Ma Huang bukan pilihan yang layak dicoba sembarangan, terutama bagi seseorang yang sudah memiliki masalah tekanan darah.
Mengapa sering muncul dalam produk pelangsing?
Ephedra memiliki efek stimulan sehingga pernah digunakan dalam produk yang dipasarkan untuk membantu menurunkan berat badan dan meningkatkan energi.
Masalahnya, efek stimulan tersebut juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.
Jadi, jangan mudah percaya pada produk yang menjanjikan:
“berat badan turun cepat + energi meningkat + bahan alami.”
Periksa komposisinya terlebih dahulu.
3. Bitter orange atau jeruk pahit
Bitter orange atau Citrus aurantium juga perlu mendapat perhatian, khususnya jika terdapat dalam suplemen penurun berat badan atau produk peningkat energi.
Bahan ini mengandung senyawa yang dapat memberikan efek stimulan pada sistem saraf.
American Heart Association mencatat bahwa bitter orange dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung serta dapat berinteraksi dengan sejumlah terapi kardiovaskular.
Karena itu, penderita hipertensi sebaiknya tidak menganggap produk pelangsing berbahan herbal sebagai sesuatu yang otomatis aman.
Hati-hati dengan klaim produk pelangsing
Suplemen penurun berat badan sering kali mengandung campuran banyak bahan.
Masalahnya, konsumen mungkin hanya melihat tulisan seperti:
“herbal”, “alami”, “detoks”, atau “fat burner”.
Padahal, yang lebih penting justru melihat daftar kandungannya.
Jika terdapat bitter orange atau bahan stimulan lainnya, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker.
Terutama jika Anda sudah menggunakan obat tekanan darah.
4. Suplemen berkafein tinggi atau produk stimulan
Kafein tidak selalu harus dihindari oleh setiap penderita hipertensi. Namun, suplemen dengan kafein dalam konsentrasi tinggi perlu diperlakukan berbeda dari secangkir kopi biasa.
Kafein dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara dan peningkatan denyut jantung pada sebagian orang. American Heart Association juga mencatat bahwa kafein dapat menyebabkan peningkatan sementara tekanan darah, denyut jantung, dan kewaspadaan.
Masalahnya, suplemen tertentu bisa mengandung kafein dalam jumlah besar atau mengombinasikannya dengan bahan stimulan lainnya.
Contohnya:
- Kapsul kafein
- Produk pre-workout
- Fat burner
- Suplemen peningkat energi
- Produk penambah stamina
- Minuman energi dalam bentuk konsentrat
Semakin banyak bahan stimulan yang dikonsumsi dalam waktu berdekatan, semakin besar pula alasan untuk berhati-hati.
Apakah kopi juga harus dihindari?
Tidak otomatis.
Efek kafein berbeda-beda pada setiap orang. American Heart Association mencatat bahwa kafein dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara, sehingga respons tubuh masing-masing perlu diperhatikan.
Karena itu, artikel ini bukan berarti mengatakan semua orang dengan hipertensi tidak boleh minum kopi.
Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi kafein dalam dosis tinggi dan produk suplemen yang mengandung stimulan dalam jumlah tidak jelas atau sangat pekat.
5. Ginseng dalam bentuk suplemen
Ginseng sering dipasarkan untuk membantu meningkatkan energi, stamina, konsentrasi, atau daya tahan tubuh.
Namun, penderita hipertensi yang sedang mengonsumsi obat sebaiknya tidak langsung menambahkan suplemen ginseng tanpa berkonsultasi.
NCCIH mencatat adanya ketidakpastian mengenai interaksi ginseng dengan beberapa obat, termasuk obat tertentu untuk tekanan darah. Karena itu, orang yang sedang menjalani pengobatan perlu memberi tahu tenaga kesehatan jika menggunakan ginseng.
Ginseng juga bukan berarti selalu berbahaya bagi semua orang.
Yang menjadi persoalan adalah kemungkinan interaksi antara bahan aktif dalam ginseng dengan obat yang sedang dikonsumsi.
Karena itu, pendekatan paling aman adalah memeriksa kembali seluruh daftar obat dan suplemen yang digunakan.
Mengapa suplemen bisa mengganggu tekanan darah?
Ada beberapa kemungkinan.
Pertama, bahan tertentu memiliki efek stimulan sehingga dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf dan membuat tekanan darah atau denyut jantung meningkat.
Kedua, beberapa herbal dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Ketiga, suplemen tertentu dapat mengubah cara tubuh menyerap, memproses, atau mengeluarkan obat.
Keempat, produk kombinasi dapat mengandung beberapa bahan sekaligus sehingga efeknya lebih sulit diprediksi.
Inilah alasan mengapa penderita hipertensi tidak sebaiknya hanya melihat satu bahan yang terkenal dari sebuah produk.
Periksa seluruh komposisinya.
Jangan terkecoh tulisan “herbal” dan “alami”
Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah menganggap sesuatu yang berasal dari tumbuhan pasti aman.
Padahal, “alami” tidak sama dengan “bebas risiko”.
NCCIH mengingatkan bahwa produk herbal dapat menimbulkan efek samping dan berinteraksi dengan obat. Kandungan produk yang dijual di pasaran juga belum tentu sama persis dengan produk yang digunakan dalam penelitian.
Selain itu, dosis juga sangat menentukan.
Menggunakan rempah sebagai bagian dari makanan sehari-hari tentu berbeda dengan mengonsumsi ekstrak tanaman dalam bentuk kapsul dengan konsentrasi tinggi.
Karena itu, jangan menyamakan bumbu dapur dengan suplemen ekstrak.
Bagaimana jika sudah terlanjur mengonsumsi salah satunya?
Jangan langsung panik.
Namun, jika Anda memiliki hipertensi dan sedang mengonsumsi salah satu suplemen tersebut, sebaiknya informasikan kepada dokter atau apoteker.
Catat:
- Nama produk
- Kandungan bahan
- Dosis
- Berapa kali dikonsumsi
- Sejak kapan digunakan
- Obat resep yang sedang diminum
Informasi tersebut akan membantu tenaga kesehatan menilai kemungkinan interaksi.
Jika setelah mengonsumsi suplemen muncul keluhan seperti jantung berdebar hebat, nyeri dada, sesak napas, sakit kepala berat, pusing berat, atau tekanan darah meningkat drastis, segera cari pertolongan medis.
Jangan hentikan obat hipertensi sendiri
Kesalahan lain yang cukup berisiko adalah mengganti obat dokter dengan suplemen.
Misalnya, seseorang membaca klaim bahwa herbal tertentu dapat menurunkan tekanan darah, kemudian menghentikan obat resep dan menggantinya dengan kapsul herbal.
Langkah seperti ini tidak dianjurkan.
NCCIH menegaskan bahwa tidak ada suplemen makanan yang terbukti memiliki efek yang sebanding dengan obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi.
American Heart Association juga mengingatkan bahwa suplemen atau produk alami tidak boleh dianggap sebagai pengganti obat resep dan perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk mengontrol tekanan darah.
Jadi, jika dokter sudah memberikan obat, konsumsi sesuai petunjuk.
Jika ingin menambahkan suplemen, bicarakan terlebih dahulu.
Tidak semua suplemen harus dihindari
Penting untuk meluruskan judul artikel ini.
Bukan berarti semua vitamin, mineral, atau suplemen otomatis berbahaya bagi penderita hipertensi.
Bahkan, beberapa jenis suplemen telah diteliti dalam kaitannya dengan tekanan darah. Namun, bukti manfaatnya berbeda-beda dan efeknya umumnya tidak dapat menggantikan terapi hipertensi.
Artinya, keputusan mengonsumsi suplemen sebaiknya didasarkan pada:
- Kandungan produk.
- Dosis.
- Kondisi kesehatan.
- Obat yang sedang dikonsumsi.
- Tujuan penggunaan.
- Saran tenaga kesehatan.
Pendekatan tersebut jauh lebih aman daripada memilih suplemen hanya karena melihat testimoni di media sosial.
Cara memilih suplemen jika punya tekanan darah tinggi
Jika dokter atau apoteker menyatakan Anda memang membutuhkan suplemen, jangan langsung membeli produk pertama yang muncul di internet.
Perhatikan beberapa hal berikut.
1. Baca seluruh label
Jangan hanya melihat tulisan di bagian depan kemasan.
Periksa daftar bahan aktif dan jumlah masing-masing kandungan.
2. Hindari produk dengan komposisi tidak jelas
Semakin banyak bahan yang dicampurkan tanpa penjelasan dosis yang jelas, semakin sulit menilai potensi interaksinya.
3. Waspadai klaim berlebihan
Kalimat seperti:
- “Pasti sembuh”
- “Turun drastis”
- “Tanpa obat dokter”
- “Tidak perlu diet”
- “Hasil dalam hitungan hari”
sebaiknya menjadi tanda untuk lebih berhati-hati.
4. Beri tahu dokter semua suplemen yang digunakan
Jangan hanya menyebut obat resep.
Sampaikan juga vitamin, jamu, teh herbal, kapsul herbal, produk pelangsing, dan suplemen olahraga.
NCCIH merekomendasikan pasien memberi tahu tenaga kesehatan mengenai seluruh suplemen yang digunakan karena interaksi antara herbal dan obat dapat terjadi.
Apa yang lebih penting daripada suplemen?
Untuk mengontrol tekanan darah, kebiasaan sehari-hari justru memiliki peran besar.
Fokus pada hal-hal yang lebih mendasar, seperti:
- Mengurangi konsumsi garam berlebihan.
- Memperbanyak sayur dan buah.
- Memilih makanan minim proses.
- Menjaga berat badan.
- Aktif bergerak secara rutin.
- Membatasi alkohol.
- Tidak merokok.
- Tidur cukup.
- Mengelola stres.
- Meminum obat sesuai resep.
- Memeriksa tekanan darah secara berkala.
American Heart Association menekankan pentingnya pola makan seimbang rendah garam, aktivitas fisik, menjaga berat badan, membatasi alkohol, dan menggunakan obat sesuai petunjuk untuk membantu mengendalikan hipertensi.
Dengan kata lain, suplemen tidak seharusnya menjadi pusat strategi pengendalian tekanan darah.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Tekanan darah yang sangat tinggi, terutama jika disertai gejala tertentu, memerlukan perhatian medis segera.
Jika tekanan darah mencapai sekitar 180/120 mmHg atau lebih, lakukan pengukuran ulang dengan benar dan segera hubungi tenaga kesehatan. Jika disertai nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, kelemahan atau mati rasa, kebingungan, atau kesulitan berbicara, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Jangan mencoba mengatasinya sendiri dengan menambah dosis suplemen atau obat tanpa arahan dokter.
Kesimpulan
Penderita tekanan darah tinggi memang perlu lebih selektif dalam memilih suplemen.
Lima kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah licorice atau akar manis, ephedra atau Ma Huang, bitter orange, suplemen berkafein tinggi atau stimulan, serta ginseng terutama jika sedang menggunakan obat tertentu.
Beberapa di antaranya dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan lainnya berpotensi berinteraksi dengan obat yang digunakan untuk mengendalikan hipertensi.
Namun, bukan berarti semua suplemen pasti berbahaya.
Kuncinya adalah melihat kandungan, dosis, kondisi kesehatan, dan obat yang sedang digunakan.
Jangan mudah percaya pada label “alami” atau klaim bahwa suatu produk dapat menggantikan obat dokter. Untuk penderita hipertensi, keamanan seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum mencoba produk herbal atau suplemen apa pun.
Jika sudah mengonsumsi obat tekanan darah, jangan menghentikannya sendiri hanya karena menemukan suplemen yang diklaim lebih alami.
Pada akhirnya, mengontrol tekanan darah bukan tentang mencari satu kapsul atau herbal ajaib. Pola makan sehat, aktivitas fisik, berat badan yang terjaga, pemeriksaan tekanan darah, dan pengobatan sesuai kebutuhan tetap menjadi fondasi utama.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia