Ilustrasi kesehatan jantung yang menunjukkan empat faktor risiko utama yang perlu dikendalikan: tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, dan kebiasaan merokok.
Serangan jantung sering datang secara tiba-tiba.
Seseorang bisa terlihat sehat pada pagi hari, kemudian beberapa jam berikutnya mengalami nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, hingga harus mendapatkan pertolongan medis segera.
Karena itu, tidak sedikit orang menganggap serangan jantung sebagai kejadian yang muncul tanpa peringatan.
Namun, penelitian besar memberikan gambaran berbeda.
Sebuah studi yang diterbitkan pada 2025 dalam Journal of the American College of Cardiology menemukan bahwa hampir semua kejadian penyakit kardiovaskular dalam dua kelompok penelitian didahului setidaknya satu faktor risiko yang tidak berada pada tingkat optimal. Penelitian tersebut mencakup lebih dari 9,3 juta orang dalam basis data kesehatan nasional Korea Selatan dan ribuan peserta dari studi MESA di Amerika Serikat.
Empat faktor yang menjadi perhatian penelitian tersebut adalah:
- Tekanan darah tinggi atau tidak optimal
- Kolesterol tinggi
- Gula darah tinggi
- Kebiasaan merokok, termasuk riwayat merokok
Temuan ini penting karena sebagian faktor tersebut dapat diketahui melalui pemeriksaan kesehatan dan, dalam banyak kasus, dapat dikendalikan.
Tetapi perlu ditekankan, keempat faktor tersebut bukan berarti menjadi penyebab tunggal setiap serangan jantung.
Genetik, usia, riwayat keluarga, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, kondisi medis, dan berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi risiko seseorang.
Lantas, mengapa empat faktor tersebut begitu penting?
1. Tekanan Darah Tinggi: Faktor yang Sering Tidak Disadari
Hipertensi sering disebut sebagai kondisi yang dapat berlangsung tanpa gejala jelas.
Seseorang bisa merasa sehat, tetap bekerja, berolahraga, bahkan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa mengetahui bahwa tekanan darahnya sudah berada di atas tingkat yang sehat.
Inilah yang membuat pemeriksaan tekanan darah menjadi penting.
Tekanan darah yang terlalu tinggi dalam jangka panjang dapat memberikan beban tambahan pada pembuluh darah dan jantung.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Dalam penelitian besar tersebut, tekanan darah menjadi salah satu faktor risiko yang paling sering ditemukan sebelum kejadian kardiovaskular. Para peneliti menggunakan ukuran tekanan darah mulai dari 120/80 mmHg sebagai salah satu batas untuk mengidentifikasi kondisi yang tidak optimal dalam konteks penelitian.
Mengapa hipertensi berbahaya?
Masalahnya bukan hanya angka tekanan darah yang tinggi sesekali.
Yang menjadi perhatian adalah tekanan darah yang terus berada pada tingkat tidak optimal atau hipertensi yang tidak terkontrol.
Tekanan darah tinggi dapat berhubungan dengan:
- penyakit jantung koroner;
- stroke;
- gagal jantung;
- gangguan ginjal;
- dan kerusakan pembuluh darah.
Karena hipertensi bisa tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan rutin menjadi salah satu cara penting untuk mengetahuinya.
Apa yang bisa dilakukan?
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga tekanan darah antara lain:
- mengurangi konsumsi garam;
- memperbanyak sayuran dan buah;
- menjaga berat badan;
- melakukan aktivitas fisik;
- tidak merokok;
- membatasi alkohol;
- tidur cukup;
- serta mengikuti pengobatan jika sudah mendapatkan diagnosis hipertensi.
Jangan menghentikan obat tekanan darah secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter.
2. Kolesterol Tinggi Dapat Berkaitan dengan Penyumbatan Pembuluh Darah
Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh.
Masalah muncul ketika kadar dan jenis lipid dalam darah berada pada kondisi yang tidak sehat.
Salah satu perhatian utama adalah LDL atau sering disebut sebagai kolesterol “jahat”.
Kadar LDL yang tinggi dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak pada dinding pembuluh darah.
Proses tersebut dikenal sebagai aterosklerosis.
Seiring waktu, plak dapat membuat pembuluh darah menjadi semakin sempit.
Jika plak pecah dan memicu terbentuknya bekuan darah, aliran darah ke jantung dapat terhambat.
Jika sumbatan terjadi secara signifikan pada arteri koroner, jaringan otot jantung dapat kekurangan oksigen dan akhirnya terjadi serangan jantung.
Itulah mengapa pemeriksaan profil lipid penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Apakah Kolesterol Tinggi Selalu Menimbulkan Gejala?
Tidak.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang tidak boleh hanya mengandalkan kondisi tubuh untuk menilai kadar kolesterol.
Kolesterol tinggi sering tidak menimbulkan keluhan yang bisa dirasakan secara langsung.
Seseorang bisa merasa bugar tetapi ternyata memiliki kadar LDL yang tinggi.
Pemeriksaan darah dapat membantu mengetahui kondisi tersebut.
Jika kadar kolesterol tinggi ditemukan, dokter dapat menilai risiko kardiovaskular secara keseluruhan dan menentukan apakah perubahan gaya hidup saja cukup atau diperlukan terapi tertentu.
Kebiasaan yang dapat membantu menjaga kolesterol
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- mengurangi lemak jenuh berlebihan;
- memperbanyak makanan berserat;
- memilih ikan sebagai salah satu sumber protein;
- memperbanyak sayuran;
- menjaga berat badan;
- aktif bergerak;
- dan tidak merokok.
Tidak perlu menghilangkan semua lemak dari makanan.
Tubuh tetap membutuhkan lemak, tetapi jenis dan jumlahnya perlu diperhatikan.
3. Gula Darah Tinggi dan Diabetes Bisa Meningkatkan Risiko Jantung
Faktor ketiga adalah kadar gula darah yang tinggi.
Gula darah yang terus berada pada tingkat tinggi dapat menjadi tanda diabetes atau gangguan metabolisme yang perlu mendapatkan perhatian.
Diabetes bukan hanya masalah gula darah.
Kondisi ini juga berkaitan erat dengan kesehatan pembuluh darah dan risiko penyakit kardiovaskular.
Gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko komplikasi.
Dalam penelitian tersebut, kadar glukosa puasa mulai 100 mg/dL, diagnosis diabetes, atau penggunaan obat penurun gula menjadi bagian dari kriteria faktor risiko yang dinilai.
Mengapa banyak orang tidak menyadarinya?
Prediabetes maupun diabetes pada tahap tertentu dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Sebagian orang baru mengetahui kadar gula darahnya bermasalah setelah menjalani pemeriksaan.
Karena itu, pemeriksaan gula darah menjadi semakin penting bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti:
- berat badan berlebih;
- riwayat keluarga diabetes;
- kurang aktivitas fisik;
- pola makan tidak sehat;
- atau pernah memiliki hasil gula darah yang tinggi.
Bagaimana Menjaga Gula Darah Tetap Terkontrol?
Tidak harus dimulai dengan perubahan ekstrem.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:
Kurangi minuman manis.
Minuman dengan gula tambahan dapat memberikan banyak kalori tanpa membuat kenyang dalam waktu lama.
Perhatikan porsi karbohidrat.
Nasi, mi, roti, dan makanan sumber karbohidrat lainnya tetap dapat dikonsumsi, tetapi porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Perbanyak serat.
Sayuran, buah utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang.
Aktif bergerak.
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi.
Periksa gula darah bila berisiko.
Jangan menunggu muncul keluhan untuk mengetahui kondisi metabolisme tubuh.
4. Merokok: Kebiasaan yang Berdampak Langsung pada Kesehatan Pembuluh Darah
Faktor keempat adalah kebiasaan merokok.
Berbeda dengan kolesterol atau tekanan darah yang perlu diketahui melalui pemeriksaan, kebiasaan merokok merupakan faktor yang dapat dikenali dari perilaku sehari-hari.
Asap rokok mengandung berbagai zat kimia yang dapat memberikan dampak buruk terhadap sistem kardiovaskular.
Merokok dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah, meningkatkan kecenderungan pembentukan bekuan, serta memperburuk berbagai faktor risiko lainnya.
Yang perlu diperhatikan, penelitian tersebut memasukkan perokok aktif maupun orang yang pernah merokok dalam penilaian faktor risiko.
Artinya, berhenti merokok tetap merupakan langkah penting meskipun seseorang sudah memiliki riwayat merokok sebelumnya.
Bagaimana dengan perokok pasif?
Paparan asap rokok dari orang lain juga bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sepele.
Karena itu, lingkungan bebas asap rokok bukan hanya bermanfaat bagi perokok yang sedang berusaha berhenti, tetapi juga bagi anggota keluarga dan orang di sekitarnya.
Mengapa Empat Faktor Ini Begitu Penting?
Yang membuat hasil penelitian tersebut menarik bukan hanya jumlah faktornya.
Para peneliti menemukan bahwa keberadaan setidaknya satu faktor risiko yang tidak optimal sangat umum sebelum kejadian penyakit kardiovaskular.
Dalam kelompok Korea Selatan, sekitar 99,7 persen kejadian penyakit jantung koroner didahului setidaknya satu faktor risiko yang tidak optimal. Angka serupa juga ditemukan pada kelompok MESA. Untuk gagal jantung dan stroke, prevalensinya juga berada di atas 99 persen pada kedua kelompok penelitian.
Bahkan, keberadaan dua atau lebih faktor risiko juga sangat umum sebelum kejadian kardiovaskular, dengan proporsi sekitar 93,2 hingga 97,2 persen dalam analisis tersebut.
Namun, angka tersebut harus dibaca secara tepat.
Penelitian ini menunjukkan hubungan antara faktor risiko yang sudah ada sebelumnya dan kejadian kardiovaskular. Bukan berarti setiap orang dengan hipertensi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, atau riwayat merokok pasti mengalami serangan jantung.
Justru pesan pentingnya adalah faktor-faktor tersebut dapat menjadi target pencegahan.
Serangan Jantung Tidak Selalu Benar-Benar “Mendadak”
Serangan jantung memang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Namun, proses yang menyebabkan seseorang memiliki risiko lebih tinggi biasanya berkembang dalam waktu yang panjang.
Misalnya, seseorang mungkin mengalami tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun.
Di saat yang sama, kadar kolesterol tidak optimal, aktivitas fisik rendah, dan masih merokok.
Orang tersebut mungkin tetap merasa sehat.
Tetapi di dalam tubuh, proses yang memengaruhi pembuluh darah dapat terus berlangsung.
Inilah alasan mengapa pencegahan sebaiknya dimulai sebelum munculnya gejala.
Siapa yang Sebaiknya Lebih Waspada?
Setiap orang perlu memperhatikan kesehatan jantung.
Namun, perhatian lebih besar diperlukan jika seseorang memiliki beberapa faktor risiko sekaligus.
Misalnya:
- tekanan darah tinggi;
- kolesterol tinggi;
- diabetes;
- kebiasaan merokok;
- obesitas;
- kurang aktivitas fisik;
- riwayat keluarga penyakit jantung;
- usia yang semakin bertambah;
- atau pernah mengalami penyakit kardiovaskular.
Jika beberapa faktor muncul bersamaan, jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan tanpa pemeriksaan.
Konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan pemeriksaan apa yang diperlukan dan seberapa besar risiko seseorang.
7 Langkah Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Jantung
Temuan penelitian ini pada akhirnya membawa pesan yang cukup sederhana: banyak faktor risiko jantung dapat diketahui dan sebagian dapat dikendalikan.
Berikut beberapa kebiasaan yang dapat dimulai.
1. Periksa tekanan darah secara berkala
Jangan menunggu sakit kepala atau keluhan tertentu untuk memeriksa tekanan darah.
Hipertensi dapat berlangsung tanpa gejala.
2. Ketahui kadar kolesterol
Pemeriksaan profil lipid membantu mengetahui kondisi kolesterol dan lemak darah.
3. Perhatikan gula darah
Terutama jika memiliki faktor risiko diabetes.
4. Berhenti merokok
Berhenti merokok merupakan salah satu keputusan penting untuk kesehatan jantung dan tubuh secara keseluruhan.
5. Bergerak lebih banyak
Tidak harus langsung melakukan olahraga berat.
Berjalan, bersepeda, berenang, atau latihan kekuatan sesuai kemampuan dapat menjadi pilihan.
6. Perbaiki pola makan
Perbanyak sayuran, buah, sumber protein berkualitas, serta makanan tinggi serat.
Batasi makanan yang tinggi garam, gula tambahan, dan lemak jenuh secara berlebihan.
7. Jaga berat badan
Berat badan berlebih dapat berkaitan dengan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan faktor risiko metabolik lainnya.
Jangan Menunggu Sampai Gejala Muncul
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah merasa aman karena tubuh tidak menunjukkan keluhan.
Padahal, beberapa faktor risiko utama penyakit jantung dapat berkembang tanpa gejala.
Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi adalah contoh kondisi yang sering tidak terasa.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala memiliki peran penting.
Tujuannya bukan untuk membuat seseorang merasa takut.
Sebaliknya, pemeriksaan memberikan kesempatan untuk mengetahui masalah lebih awal sehingga perubahan gaya hidup atau pengobatan dapat dilakukan bila diperlukan.
Kenali Tanda-Tanda Serangan Jantung
Mencegah tetap menjadi langkah utama.
Namun, masyarakat juga perlu mengetahui tanda serangan jantung karena pertolongan cepat sangat penting.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- rasa tertekan atau nyeri di dada;
- nyeri yang dapat menjalar ke lengan, bahu, punggung, leher, atau rahang;
- sesak napas;
- keringat dingin;
- mual atau muntah;
- pusing atau merasa sangat lemas;
- jantung berdebar;
- atau rasa tidak nyaman yang muncul secara tiba-tiba.
Gejala tidak selalu sama pada setiap orang.
Pada sebagian orang, terutama perempuan, orang lanjut usia, atau penderita diabetes, gejalanya dapat lebih samar.
Jika seseorang dicurigai mengalami serangan jantung, jangan menunggu gejala hilang dengan sendirinya. Segera cari pertolongan medis darurat.
Apakah Orang Muda Bisa Mengalami Serangan Jantung?
Bisa.
Usia memang merupakan salah satu faktor risiko, tetapi serangan jantung bukan hanya masalah orang lanjut usia.
Orang yang lebih muda juga dapat memiliki faktor risiko seperti:
- merokok;
- diabetes;
- kolesterol tinggi;
- tekanan darah tinggi;
- obesitas;
- kurang aktivitas fisik;
- atau riwayat keluarga penyakit jantung.
Karena itu, gaya hidup sehat sebaiknya tidak baru dimulai ketika seseorang memasuki usia tua.
Kebiasaan yang dibangun sejak muda dapat menjadi investasi untuk kesehatan jangka panjang.
Jangan Salah Memahami Hasil Penelitian
Ada satu hal penting yang harus diperhatikan ketika membaca berita mengenai penelitian ini.
Judul seperti “99 persen serangan jantung disebabkan empat faktor” memang terdengar mengejutkan.
Namun, secara ilmiah, kesimpulannya lebih tepat disebut sebagai:
Hampir seluruh kejadian kardiovaskular dalam penelitian tersebut didahului setidaknya satu dari empat faktor risiko yang berada di atas tingkat optimal.
Penelitian ini tidak mengatakan bahwa hanya ada empat penyebab penyakit jantung.
Faktor seperti usia, genetik, riwayat keluarga, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, kondisi lingkungan, dan faktor lainnya tetap relevan.
Bahkan kerangka kesehatan kardiovaskular yang lebih luas juga mempertimbangkan berbagai aspek seperti pola makan, aktivitas fisik, paparan nikotin, tidur, berat badan, lipid darah, gula darah, dan tekanan darah.
Jadi, hasil penelitian sebaiknya digunakan sebagai pengingat untuk melakukan pencegahan, bukan sebagai alasan untuk mendiagnosis diri sendiri.
Kesimpulan
Penelitian besar yang melibatkan lebih dari 9 juta orang memberikan pesan penting mengenai kesehatan jantung.
Empat faktor risiko yang sangat sering ditemukan sebelum kejadian kardiovaskular adalah:
1. Tekanan darah yang tidak optimal atau hipertensi.
2. Kolesterol yang tinggi atau tidak optimal.
3. Gula darah yang tinggi atau diabetes.
4. Kebiasaan merokok, baik saat ini maupun sebelumnya.
Keempatnya bukan satu-satunya penyebab serangan jantung.
Namun, temuan penelitian menunjukkan betapa pentingnya mengenali dan mengendalikan faktor risiko tersebut sedini mungkin.
Pesannya sederhana: jangan menunggu jantung bermasalah baru mulai menjaganya.
Periksa tekanan darah.
Ketahui kadar kolesterol.
Pantau gula darah.
Berhenti merokok.
Bergerak lebih aktif.
Perbaiki pola makan.
Dan jangan abaikan gejala yang mencurigakan.
Kesehatan jantung bukan sesuatu yang dibangun dalam satu hari. Sebaliknya, kondisi jantung merupakan hasil dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus selama bertahun-tahun.
Baca juga artikel ini: BRIN Dorong Kemandirian Riset Satelit Lewat APSAT 2026