Pemanis Rendah Kalori Stevia: Manfaat, Efek Samping, dan Cara Aman Mengonsumsinya
Stevia semakin populer sebagai alternatif gula pasir. Rasanya sangat manis, tetapi steviol glikosida yang digunakan sebagai pemanis memberikan rasa manis dengan sedikit atau tanpa kalori yang berarti dalam jumlah penggunaan biasa.
Karena alasan tersebut, stevia sering dipilih oleh orang yang ingin mengurangi konsumsi gula, menjaga asupan kalori, atau mencari alternatif pemanis untuk minuman dan makanan sehari-hari.
Namun, anggapan bahwa sesuatu yang berasal dari tanaman pasti cocok untuk semua orang juga perlu diluruskan.
Stevia yang digunakan sebagai pemanis umumnya berupa steviol glikosida, seperti stevioside dan rebaudioside A. Bahan tersebut berbeda dengan mengonsumsi daun stevia mentah atau ekstrak stevia kasar.
Pada sebagian orang, konsumsi pemanis berbasis stevia dapat menimbulkan keluhan tertentu, terutama jika digunakan berlebihan atau produk yang dipilih mengandung bahan tambahan lain.
Lantas, apa saja efek samping stevia yang perlu diketahui?
1. Bisa Menimbulkan Keluhan pada Saluran Pencernaan
Salah satu keluhan yang mungkin muncul setelah mengonsumsi produk pemanis rendah kalori adalah gangguan pencernaan.
Keluhan dapat berupa perut terasa penuh, kembung, mual, atau rasa tidak nyaman di perut.
Namun, penting untuk melihat komposisi produk secara keseluruhan.
Tidak semua produk yang menggunakan stevia hanya berisi steviol glikosida. Sebagian produk pemanis bubuk atau tablet juga menggunakan bahan pengisi atau pemanis lain yang dapat memengaruhi pencernaan.
Jadi, ketika seseorang mengalami perut kembung setelah mengonsumsi “stevia”, penyebabnya belum tentu steviol glikosidanya sendiri.
Apa yang bisa dilakukan?
Jika baru mulai menggunakan stevia, gunakan dalam jumlah kecil terlebih dahulu.
Perhatikan respons tubuh selama beberapa hari. Jika keluhan muncul berulang kali setiap kali produk tertentu dikonsumsi, periksa label komposisinya dan pertimbangkan untuk menghentikan penggunaannya.
2. Rasa Manisnya Sangat Kuat
Stevia memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi daripada gula meja.
Karena itu, jumlah yang dibutuhkan untuk memberikan rasa manis biasanya jauh lebih sedikit.
Bagi sebagian orang, rasa stevia juga terasa berbeda dari gula. Ada yang menggambarkannya memiliki sedikit rasa pahit atau sensasi seperti licorice, terutama pada konsentrasi tertentu.
Hal tersebut bukan efek samping kesehatan, tetapi dapat membuat sebagian orang justru menggunakan lebih banyak bahan tambahan lain untuk mendapatkan rasa yang sesuai.
Misalnya, kopi atau teh yang diberi stevia kemudian ditambahkan krimer, susu kental manis, atau bahan pemanis lain dalam jumlah besar.
Jika tujuan awalnya adalah mengurangi gula, kebiasaan tersebut justru dapat mengurangi manfaat dari mengganti gula dengan pemanis rendah kalori.
3. Pada Sebagian Orang Dapat Menyebabkan Pusing atau Keluhan Lain
Dalam sejumlah penelitian klinis mengenai steviol glikosida, beberapa efek yang dilaporkan antara lain rasa penuh di perut, nyeri ulu hati, dan pusing.
Namun, temuan tersebut tidak berarti semua orang yang mengonsumsi stevia akan mengalami keluhan tersebut.
Penelitian pada manusia juga memiliki jumlah peserta dan desain yang berbeda-beda sehingga hasilnya perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Karena itu, jika seseorang mengalami pusing atau keluhan lain setelah mengonsumsi produk yang mengandung stevia, jangan langsung menyimpulkan bahwa stevia adalah penyebab tunggal.
Asupan makanan lain, kondisi tubuh, obat yang sedang dikonsumsi, kurang makan, dehidrasi, atau faktor lainnya juga dapat berperan.
Jika keluhan terus berulang, sebaiknya hentikan sementara produk tersebut dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
4. Perlu Diperhatikan oleh Orang dengan Tekanan Darah Rendah
Steviol glikosida telah diteliti terkait dengan tekanan darah. Beberapa penelitian menemukan adanya kemungkinan efek terhadap tekanan darah, meskipun hasil antarpenelitian tidak sepenuhnya konsisten.
Karena itu, orang yang memiliki tekanan darah rendah atau sedang menggunakan obat untuk menurunkan tekanan darah sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi stevia dalam jumlah besar dengan anggapan bahwa semakin banyak akan semakin sehat.
Pemanis bukanlah terapi untuk tekanan darah.
Jika seseorang sedang menggunakan obat antihipertensi, perubahan konsumsi produk yang berpotensi memengaruhi tekanan darah sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Hal ini terutama penting jika muncul keluhan seperti pusing, lemas, atau merasa hampir pingsan.
5. Orang yang Menggunakan Obat Tertentu Perlu Lebih Berhati-hati
Stevia sering dianggap sekadar pengganti gula sehingga interaksinya dengan obat kadang tidak diperhatikan.
Padahal, seseorang yang rutin mengonsumsi obat untuk kondisi tertentu sebaiknya mempertimbangkan keseluruhan pola makan dan suplemen yang digunakan.
Hal ini tidak berarti stevia terbukti berbahaya jika dikonsumsi bersama obat. Namun, orang dengan kondisi medis tertentu sebaiknya tidak menjadikan pemanis sebagai sesuatu yang dikonsumsi dalam jumlah berlebihan tanpa pertimbangan.
Terutama jika seseorang sedang menjalani terapi untuk tekanan darah atau kondisi metabolik, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan pilihan pemanis yang sesuai.
6. Produk “Stevia” Belum Tentu Hanya Mengandung Stevia
Ini merupakan hal yang sering terlewat.
Saat membeli produk yang diberi label stevia, jangan hanya melihat bagian depan kemasan.
Periksa daftar bahan atau komposisinya.
Produk pemanis yang menggunakan stevia dapat mengandung bahan lain seperti erythritol, maltodekstrin, gula alkohol, atau bahan pengisi tertentu, tergantung formulasi produknya.
Artinya, keluhan yang muncul setelah mengonsumsi suatu produk belum tentu berasal dari steviol glikosida.
Dua produk yang sama-sama menggunakan label “stevia” bahkan dapat memiliki komposisi yang berbeda.
Karena itu, membaca label merupakan langkah sederhana yang penting.
Apakah Stevia Aman Dikonsumsi?
Pertanyaan ini cukup sering muncul karena stevia berasal dari tanaman.
Jawabannya perlu dibedakan antara daun stevia atau ekstrak kasar dengan steviol glikosida yang telah dimurnikan dan digunakan sebagai pemanis.
Badan pengawas dan lembaga keamanan pangan telah mengevaluasi steviol glikosida sebagai bahan pemanis. JECFA menetapkan ADI sebesar 0–4 mg/kg berat badan per hari, dinyatakan sebagai ekuivalen steviol.
ADI bukan berarti seseorang harus mengonsumsi stevia setiap hari sampai batas tersebut. Angka tersebut merupakan batas asupan harian yang dinilai dapat diterima sepanjang hidup berdasarkan evaluasi keamanan.
Karena tingkat kemanisan steviol glikosida sangat tinggi, jumlah yang diperlukan sebagai pemanis biasanya kecil.
Jadi, penggunaan sesuai petunjuk produk merupakan hal yang lebih penting daripada mengejar jumlah tertentu.
Stevia dan Gula, Mana yang Lebih Baik?
Stevia dan gula memiliki karakteristik yang berbeda.
Gula pasir memberikan kalori dan dapat meningkatkan asupan gula tambahan jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Sementara itu, steviol glikosida memberikan rasa manis dengan kontribusi kalori yang sangat kecil.
Karena itu, mengganti sebagian gula dengan pemanis rendah kalori dapat menjadi salah satu cara mengurangi asupan gula.
Namun, mengganti gula dengan stevia tidak otomatis membuat seluruh pola makan menjadi sehat.
Contohnya, seseorang mungkin menggunakan stevia dalam kopi tetapi tetap mengonsumsi minuman manis lainnya, makanan ultra-proses, kue, dan camilan tinggi kalori dalam jumlah besar.
Dengan kata lain, penggunaan stevia sebaiknya dilihat sebagai salah satu alat untuk mengurangi gula, bukan sebagai jaminan bahwa pola makan sudah sehat.
Apakah Stevia Bisa Membantu Menurunkan Gula Darah?
Topik ini sering menjadi alasan seseorang beralih ke stevia.
Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan adanya efek steviol glikosida terhadap kadar glukosa darah, tetapi hasil penelitian belum cukup konsisten untuk menjadikan stevia sebagai terapi diabetes.
Meta-analisis terbaru menemukan kemungkinan penurunan kadar glukosa darah, tetapi tingkat kepastian buktinya masih rendah dan efek terhadap HbA1c tidak menunjukkan hasil yang meyakinkan.
Karena itu, penderita diabetes tidak boleh mengganti obat atau terapi yang diresepkan dokter hanya karena mulai menggunakan stevia.
Stevia dapat digunakan sebagai pilihan pemanis rendah kalori dalam pola makan tertentu, tetapi pengelolaan diabetes tetap membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Bagaimana Cara Mengonsumsi Stevia dengan Lebih Bijak?
Jika ingin menggunakan stevia sebagai pengganti gula, beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan.
1. Gunakan secukupnya
Tidak perlu menambahkan stevia dalam jumlah berlebihan hanya untuk membuat makanan atau minuman terasa sangat manis.
Tujuannya justru dapat diarahkan untuk perlahan mengurangi ketergantungan terhadap rasa manis.
2. Baca komposisi produk
Jangan hanya melihat tulisan “stevia” pada kemasan.
Perhatikan bahan lain yang digunakan dalam produk tersebut.
3. Pilih produk yang jelas kandungannya
Gunakan produk dengan informasi komposisi dan aturan penggunaan yang jelas.
4. Jangan menganggap stevia sebagai obat
Stevia merupakan pemanis, bukan obat untuk diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, atau penyakit lainnya.
5. Perhatikan respons tubuh
Jika muncul keluhan berulang setelah mengonsumsi produk tertentu, hentikan sementara dan cari tahu kemungkinan penyebabnya.
6. Tetap biasakan lidah dengan rasa kurang manis
Ini mungkin justru menjadi langkah paling penting.
Jika tujuan penggunaan stevia adalah mengurangi gula, jangan hanya mengganti gula dengan stevia tetapi tetap mempertahankan makanan dan minuman yang sangat manis.
Cobalah mengurangi tingkat kemanisan secara bertahap.
Siapa yang Sebaiknya Berkonsultasi Sebelum Rutin Menggunakan Stevia?
Tidak semua orang membutuhkan konsultasi khusus sebelum menggunakan pemanis berbasis steviol glikosida dalam jumlah makanan yang wajar.
Namun, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dapat menjadi pilihan yang bijak bagi orang yang:
- sedang menggunakan obat untuk tekanan darah;
- memiliki tekanan darah rendah;
- memiliki diabetes dan sedang menjalani pengobatan;
- mengalami keluhan yang berulang setelah mengonsumsi pemanis;
- sedang menjalani diet khusus karena kondisi medis;
- memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan pengaturan makanan secara ketat.
Tujuannya bukan karena stevia otomatis berbahaya, melainkan agar penggunaan pemanis sesuai dengan kondisi dan terapi yang sedang dijalani.
Jangan Tertukar antara Stevia Murni dan Produk Campuran
Satu hal yang sering membingungkan konsumen adalah istilah “stevia”.
Produk di pasaran bisa memiliki bentuk dan komposisi yang berbeda.
Ada produk yang menggunakan steviol glikosida sebagai bahan pemanis utama. Ada pula yang mencampurkannya dengan bahan lain untuk memperbaiki rasa, tekstur, atau volume.
Karena itu, membaca label menjadi sangat penting.
Jika produk mengandung beberapa jenis pemanis sekaligus, efek terhadap pencernaan atau rasa yang ditimbulkan juga dapat berbeda.
Jangan hanya mengandalkan klaim “alami”, “tanpa gula”, atau “rendah kalori” pada bagian depan kemasan.
Kesimpulan
Stevia merupakan salah satu pilihan pemanis rendah kalori yang dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan gula, tetapi bukan berarti tanpa hal yang perlu diperhatikan.
Efek samping atau keluhan yang mungkin muncul pada sebagian orang dapat berupa perut terasa penuh, ketidaknyamanan pada saluran pencernaan, nyeri ulu hati, atau pusing. Namun, keluhan tersebut tidak dialami semua orang dan dapat dipengaruhi oleh formulasi produk maupun kondisi individu.
Yang tidak kalah penting, pilih produk yang memiliki komposisi jelas dan gunakan sesuai petunjuk. Perhatikan pula bahan tambahan karena produk yang menggunakan stevia belum tentu hanya mengandung steviol glikosida.
Bukti keamanan saat ini mendukung penggunaan steviol glikosida yang memenuhi spesifikasi dalam batas asupan yang ditetapkan. JECFA mempertahankan ADI sebesar 0–4 mg/kg berat badan per hari, dinyatakan sebagai ekuivalen steviol.
Pada akhirnya, tujuan menggunakan stevia sebaiknya bukan sekadar mencari pengganti gula, tetapi juga membiasakan diri mengurangi rasa manis secara keseluruhan.
Dengan penggunaan yang bijak, membaca label, dan memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing, stevia dapat menjadi salah satu pilihan dalam pola makan yang lebih rendah gula.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia