Batu ginjal tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Sejumlah kebiasaan yang dilakukan setiap hari, seperti kurang minum air, terlalu banyak mengonsumsi garam, hingga pola makan tinggi protein hewani, dapat ikut meningkatkan risikonya. Kenali kebiasaannya dan mulai lakukan perubahan sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal.
Batu ginjal sering kali datang tanpa disadari. Seseorang bisa merasa sehat seperti biasa, menjalani aktivitas harian, makan dan minum tanpa banyak berpikir, sampai suatu ketika muncul nyeri tajam di pinggang atau punggung yang terasa sangat mengganggu.
Batu ginjal terbentuk ketika zat tertentu di dalam urine berada dalam konsentrasi tinggi hingga membentuk kristal. Kristal tersebut kemudian dapat berkumpul menjadi batu dengan ukuran yang beragam. Tidak semua batu ginjal langsung menimbulkan gejala. Namun, ketika batu bergerak menuju saluran kemih atau menghambat aliran urine, rasa sakit dapat muncul dengan intensitas yang cukup berat.
Menariknya, sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat ikut meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal. Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele, bahkan sering dilakukan tanpa disadari.
Mulai dari jarang minum air putih hingga terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam, pola hidup sehari-hari ternyata dapat memengaruhi kondisi urine dan proses pembentukan batu.
Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu diwaspadai?
1. Sering Menunda Minum Air Putih
Kebiasaan pertama yang sering dianggap sepele adalah kurang minum.
Kesibukan bekerja, bepergian, berada di ruangan ber-AC, atau terlalu fokus pada aktivitas tertentu bisa membuat seseorang lupa memenuhi kebutuhan cairan. Ada pula orang yang sengaja membatasi minum karena tidak ingin terlalu sering ke toilet.
Padahal, urine yang terlalu pekat dapat meningkatkan konsentrasi zat pembentuk kristal di dalam saluran kemih.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases atau NIDDK, minum cukup cairan, terutama air putih, merupakan salah satu langkah terpenting untuk membantu mencegah batu ginjal. Cairan membantu membuat urine lebih encer sehingga mineral yang berpotensi membentuk batu tidak mudah berkumpul dalam konsentrasi tinggi.
Karena itu, jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk minum.
Kebutuhan cairan setiap orang memang tidak sama. Cuaca panas, aktivitas fisik, keringat berlebih, usia, kondisi kesehatan, hingga pola makan dapat memengaruhi kebutuhan cairan.
Orang yang tinggal di daerah panas atau banyak berkeringat tentu perlu lebih memperhatikan asupan cairan.
Bagaimana mengetahui tubuh cukup cairan?
Salah satu hal sederhana yang dapat diperhatikan adalah warna urine. Urine yang sangat pekat dan berwarna lebih gelap dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak cairan, meskipun warna urine juga dapat dipengaruhi makanan, obat, maupun kondisi kesehatan tertentu.
Bagi orang yang memiliki penyakit ginjal atau kondisi medis tertentu, kebutuhan cairan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. Jangan memaksakan minum dalam jumlah sangat banyak tanpa mengetahui kondisi tubuh.
2. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan Tinggi Garam
Kebiasaan kedua adalah terlalu banyak mengonsumsi makanan asin.
Garam bukan hanya berasal dari garam dapur yang ditambahkan saat memasak. Natrium juga dapat ditemukan dalam berbagai makanan kemasan, makanan cepat saji, daging olahan, makanan instan, makanan kaleng, saus, bumbu siap pakai, serta berbagai camilan.
Masalahnya, konsumsi natrium yang tinggi dapat meningkatkan jumlah kalsium yang dikeluarkan melalui urine. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya batu ginjal tertentu, khususnya batu yang mengandung kalsium.
Itulah sebabnya kebiasaan makan terlalu asin tidak hanya perlu diperhatikan oleh penderita tekanan darah tinggi.
Kesehatan ginjal juga menjadi alasan penting untuk mengontrol asupan garam.
Waspadai makanan yang terasa “biasa saja”
Salah satu tantangan terbesar adalah natrium sering tersembunyi dalam makanan yang tidak terasa terlalu asin.
Contohnya:
- Mi instan dan makanan instan.
- Keripik dan makanan ringan kemasan.
- Sosis dan daging olahan.
- Makanan cepat saji.
- Sup instan.
- Saus dan bumbu kemasan.
- Makanan kaleng.
- Aneka makanan restoran dengan banyak bumbu.
Bukan berarti semua makanan tersebut harus dihilangkan sepenuhnya. Namun, frekuensi dan jumlah konsumsinya perlu diperhatikan.
Membiasakan membaca label makanan juga dapat membantu seseorang mengetahui berapa banyak natrium yang masuk ke tubuh setiap hari.
3. Terlalu Sering Mengonsumsi Daging dan Protein Hewani dalam Jumlah Berlebihan
Protein merupakan nutrisi penting. Tubuh membutuhkan protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan serta menjalankan berbagai fungsi biologis.
Namun, pola makan yang terlalu banyak mengandalkan protein hewani dapat menjadi perhatian pada orang yang memiliki risiko tertentu terhadap batu ginjal.
NIDDK menyebut konsumsi protein hewani dapat meningkatkan peluang terbentuknya beberapa jenis batu ginjal. Untuk batu asam urat, misalnya, konsumsi banyak daging, ikan, makanan laut, dan terutama jeroan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam urine.
Karena itu, persoalannya bukan berarti daging harus dianggap sebagai makanan “penyebab batu ginjal”.
Yang lebih penting adalah jumlah, frekuensi, jenis makanan, dan pola makan secara keseluruhan.
Misalnya, seseorang yang setiap hari mengonsumsi porsi besar daging merah atau jeroan, sementara konsumsi sayur, buah, dan air putih rendah, tentu memiliki pola makan yang berbeda dibandingkan seseorang yang mengonsumsi protein dalam jumlah seimbang.
Jangan salah memahami soal protein
Mengurangi protein secara ekstrem bukan solusi yang tepat.
Tubuh tetap membutuhkan protein. Yang perlu dilakukan adalah menjaga keseimbangan dan menyesuaikan pola makan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe, dan lentil dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, bagi orang yang pernah mengalami batu ginjal, jenis batu yang pernah terbentuk juga perlu diketahui karena rekomendasi makanan dapat berbeda.
Jadi, jangan melakukan diet ekstrem hanya berdasarkan informasi dari media sosial.
4. Sering Mengonsumsi Makanan Olahan dan Cepat Saji
Kebiasaan berikutnya adalah terlalu sering mengandalkan makanan ultra-proses, makanan cepat saji, atau makanan siap santap.
Bukan hanya karena kandungan garamnya. Makanan seperti ini juga dapat membuat pola makan seseorang menjadi kurang seimbang.
Satu kali makan cepat saji mungkin bukan persoalan besar. Namun, apabila menjadi kebiasaan hampir setiap hari, jumlah natrium, kalori, protein hewani, dan komponen lain yang masuk ke tubuh dapat menjadi lebih sulit dikontrol.
Makanan kemasan dan makanan cepat saji juga termasuk sumber natrium yang perlu diperhatikan dalam upaya mengurangi risiko batu ginjal.
Contoh kebiasaan yang perlu dikurangi
Misalnya:
Pagi: makanan instan atau makanan olahan.
Siang: makanan cepat saji dengan lauk tinggi garam.
Sore: camilan kemasan.
Malam: makanan olahan atau pesan antar dengan banyak saus dan bumbu.
Jika pola seperti ini berlangsung terus-menerus, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa konsumsi natriumnya cukup tinggi.
Sebagai gantinya, cobalah lebih sering mengonsumsi makanan rumahan dengan bahan yang lebih sederhana.
Sayur, buah, biji-bijian utuh, sumber protein yang beragam, dan air putih dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang.
Pola makan DASH, misalnya, telah dikaitkan dengan penurunan risiko batu ginjal.
5. Mengabaikan Berat Badan dan Kurang Bergerak
Kebiasaan terakhir yang perlu diperhatikan adalah mengabaikan berat badan dan aktivitas fisik.
Hubungan antara berat badan dan batu ginjal memang tidak sesederhana “gemuk pasti terkena batu ginjal”. Namun, NIDDK menyebut kelebihan berat badan sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal.
Karena itu, menjaga berat badan dalam rentang sehat menjadi bagian dari gaya hidup yang dapat mendukung kesehatan ginjal.
Masalahnya, pola hidup modern membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk.
Bekerja di depan komputer, menggunakan kendaraan untuk jarak dekat, terlalu lama menonton televisi, hingga minim aktivitas fisik dapat membuat pengeluaran energi menjadi rendah.
Kurang bergerak juga sering berjalan bersamaan dengan pola makan yang kurang sehat.
Tidak harus olahraga berat
Menjaga tubuh tetap aktif tidak selalu berarti harus melakukan olahraga berat setiap hari.
Berjalan kaki, naik tangga, melakukan pekerjaan rumah, bersepeda santai, atau melakukan aktivitas fisik lainnya secara rutin dapat menjadi pilihan.
Yang paling penting adalah konsistensi.
Namun, aktivitas fisik juga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, terutama ketika tubuh banyak mengeluarkan keringat.
Batu Ginjal Tidak Hanya Dipengaruhi Makanan
Penting untuk dipahami bahwa batu ginjal tidak muncul hanya karena seseorang makan satu jenis makanan tertentu.
Ada beberapa jenis batu ginjal, termasuk batu kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, dan sistin. Masing-masing dapat memiliki faktor pemicu yang berbeda.
Faktor genetik juga dapat berperan.
Orang yang memiliki keluarga dengan riwayat batu ginjal memiliki risiko lebih tinggi. Seseorang yang pernah mengalami batu ginjal juga lebih berisiko mengalami batu kembali.
Selain itu, beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti obesitas, gout, gangguan saluran pencernaan, infeksi saluran kemih berulang, serta gangguan tertentu yang memengaruhi kadar mineral dalam urine, juga dapat meningkatkan risiko.
Jadi, tidak tepat apabila seluruh kasus batu ginjal hanya dikaitkan dengan pola makan.
Jangan Takut dengan Kalsium dari Makanan
Ada satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul: orang mengira semua makanan yang mengandung kalsium harus dihindari agar tidak terkena batu ginjal.
Padahal, kalsium dari makanan tidak secara otomatis meningkatkan risiko batu kalsium oksalat.
Dalam jumlah yang tepat, kalsium dari makanan justru dapat membantu mengikat oksalat di saluran pencernaan sehingga lebih sedikit oksalat yang diserap tubuh.
Karena itu, jangan sembarangan menghilangkan susu atau sumber kalsium dari menu harian hanya karena takut batu ginjal.
Jika seseorang sudah pernah mengalami batu ginjal, kebutuhan kalsium dan pembatasan makanan tertentu sebaiknya disesuaikan dengan jenis batu serta hasil evaluasi dokter.
Bagaimana Cara Sederhana Mengurangi Risiko Batu Ginjal?
Mengubah kebiasaan sehari-hari tidak harus dilakukan secara drastis.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
1. Biasakan membawa botol air
Membawa air minum sendiri dapat membantu mengingatkan kita untuk minum secara berkala.
2. Jangan menunggu haus berlebihan
Minumlah secara teratur sepanjang hari sesuai kebutuhan tubuh.
3. Kurangi makanan terlalu asin
Batasi makanan kemasan, makanan cepat saji, daging olahan, serta penggunaan garam dan bumbu tinggi natrium secara berlebihan.
4. Perbanyak makanan segar
Buah, sayuran, dan makanan minim proses dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat.
5. Jangan berlebihan mengonsumsi daging
Pilih variasi sumber protein dan hindari menjadikan daging merah atau jeroan sebagai menu utama setiap hari dalam jumlah berlebihan.
6. Pertahankan berat badan sehat
Jika mengalami kelebihan berat badan, lakukan penurunan berat badan secara bertahap melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik.
7. Kenali jenis batu ginjal jika pernah mengalaminya
Ini sangat penting. Pola makan untuk mencegah batu ginjal berikutnya dapat berbeda tergantung jenis batu yang pernah terbentuk.
Apakah Air Putih Bisa Menghancurkan Batu Ginjal?
Air putih sangat penting untuk membantu mencegah pembentukan batu dan menjaga urine tetap encer. Namun, anggapan bahwa minum banyak air otomatis dapat menghancurkan semua batu ginjal tidak tepat.
Batu dengan ukuran kecil pada sebagian orang memang dapat keluar melalui saluran kemih secara alami. Namun, batu yang lebih besar atau yang menyebabkan sumbatan dapat membutuhkan penanganan medis.
NIDDK menyebut dokter dapat menentukan penanganan berdasarkan ukuran, lokasi, jenis batu, serta kondisi pasien. Penanganannya dapat mencakup pemantauan, obat tertentu, hingga tindakan untuk memecah atau mengeluarkan batu.
Karena itu, jangan mengandalkan minuman tertentu atau ramuan rumahan sebagai satu-satunya cara mengatasi batu ginjal.
Waspadai Gejala Batu Ginjal
Batu ginjal kecil terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Namun, ketika batu bergerak atau menghambat saluran kemih, beberapa gejala dapat muncul.
Di antaranya:
- Nyeri tajam di bagian punggung atau pinggang.
- Nyeri yang menjalar ke perut bagian bawah atau selangkangan.
- Nyeri yang datang dan pergi dengan intensitas berbeda.
- Darah dalam urine.
- Rasa nyeri ketika buang air kecil.
- Keinginan buang air kecil lebih sering.
- Urine terlihat keruh atau memiliki bau yang tidak biasa.
- Mual dan muntah.
NIDDK menyebut batu ginjal juga dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi saluran kemih dan, pada kondisi tertentu, gangguan fungsi ginjal apabila tidak ditangani.
Jika nyeri sangat berat, terdapat darah dalam urine, sulit buang air kecil, demam, menggigil, atau muncul keluhan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis diperlukan.
Jangan Asal Membatasi Makanan
Satu hal yang juga penting: diet batu ginjal tidak sama untuk semua orang.
Seseorang dengan batu kalsium oksalat mungkin mendapatkan saran berbeda dibandingkan orang dengan batu asam urat. Bahkan, pembatasan oksalat tidak selalu diperlukan untuk semua orang yang memiliki batu ginjal.
NIDDK menyarankan perubahan pola makan disesuaikan dengan jenis batu dan kondisi masing-masing. Dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan makanan yang perlu dikurangi atau dipertahankan.
Karena itu, jangan langsung menghapus banyak kelompok makanan dari menu hanya karena membaca satu informasi di internet.
Pola makan yang terlalu ketat justru dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi.
Kesimpulan
Batu ginjal bisa dipengaruhi banyak faktor, tetapi sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat meningkatkan risikonya.
Kurang minum air, terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam, berlebihan mengonsumsi protein hewani, terlalu sering makan makanan olahan atau cepat saji, serta mengabaikan berat badan dan aktivitas fisik merupakan kebiasaan yang patut diperhatikan.
Langkah pencegahan yang paling sederhana adalah menjaga asupan cairan, mengontrol konsumsi garam, menerapkan pola makan seimbang, menjaga berat badan, dan tetap aktif bergerak.
Namun, pencegahan batu ginjal tidak bisa dilakukan dengan satu aturan yang berlaku untuk semua orang. Jenis batu, kondisi kesehatan, riwayat keluarga, obat yang dikonsumsi, dan pola makan masing-masing perlu dipertimbangkan.
Jika pernah mengalami batu ginjal, mengetahui jenis batu yang terbentuk menjadi langkah penting agar strategi pencegahan berikutnya lebih tepat.
Ginjal mungkin tidak selalu memberikan tanda ketika mulai bermasalah. Karena itu, kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan saluran kemih untuk jangka panjang.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia