Bukan Cuma Nyeri Sendi, Ini 7 Efek Autoimun yang Bisa Mengganggu Tubuh
Penyakit autoimun dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh karena sistem kekebalan keliru menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri. Efeknya beragam, mulai dari mudah lelah, nyeri sendi, perubahan pada kulit, hingga rambut rontok.
Sistem kekebalan tubuh sebenarnya memiliki tugas penting, yaitu melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan berbagai ancaman lainnya. Namun, pada penyakit autoimun, sistem pertahanan tersebut mengalami gangguan sehingga justru dapat menyerang jaringan tubuh yang sehat.
Autoimun bukan hanya satu jenis penyakit. Ada banyak kondisi yang termasuk dalam kelompok penyakit autoimun, dan masing-masing dapat menyerang bagian tubuh yang berbeda.
Sebagian penyakit terutama memengaruhi satu jaringan, sementara lainnya dapat berdampak pada beberapa organ sekaligus. Lupus, misalnya, dapat memengaruhi kulit, persendian, ginjal, paru-paru, jantung, darah, hingga sistem saraf.
Karena gejalanya dapat menyerupai berbagai kondisi lain, mengenali perubahan tubuh menjadi hal yang penting.
Berikut tujuh efek autoimun pada tubuh yang perlu diketahui.
1. Rambut Rontok
Rambut rontok merupakan salah satu perubahan yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit autoimun.
Salah satu contohnya adalah alopecia areata, kondisi ketika sistem kekebalan menyerang folikel rambut. Akibatnya, rambut dapat rontok secara tiba-tiba dan biasanya membentuk area kebotakan berbentuk bulat atau oval.
Kerontokan tidak selalu terbatas pada kulit kepala. Pada sebagian orang, rambut di bagian tubuh lain seperti alis, bulu mata, atau janggut juga dapat terdampak.
Lupus juga dapat menyebabkan rambut rontok. Pada kondisi ini, kerontokan dapat muncul bersama gejala lain seperti ruam kulit, nyeri sendi, kelelahan, atau keluhan pada organ tertentu.
Namun, penting untuk dipahami bahwa rambut rontok tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit autoimun.
Kerontokan dapat disebabkan oleh banyak faktor, termasuk stres, perubahan hormon, kekurangan nutrisi, gangguan tiroid, obat-obatan, masalah kulit kepala, dan kondisi kesehatan lainnya.
Karena itu, kerontokan yang berlangsung lama atau muncul secara tiba-tiba sebaiknya diperiksakan untuk mengetahui penyebabnya.
2. Tubuh Mudah Lelah
Rasa lelah yang terus muncul meskipun sudah beristirahat cukup juga dapat menjadi salah satu keluhan pada penyakit autoimun.
Kelelahan pada kondisi autoimun tidak selalu sama dengan rasa mengantuk setelah menjalani aktivitas berat. Sebagian orang dapat merasa energinya sangat rendah sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit dilakukan.
NIH menyebut kelelahan sebagai salah satu gejala umum pada berbagai penyakit autoimun. Penyebabnya dapat kompleks dan berkaitan dengan proses peradangan serta berbagai mekanisme tubuh lainnya.
Masalahnya, mudah lelah merupakan gejala yang sangat umum.
Kurang tidur, anemia, stres, infeksi, pola makan yang kurang baik, gangguan tiroid, dan banyak kondisi lainnya juga dapat menyebabkan tubuh terasa lemas.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa kelelahan merupakan tanda autoimun hanya berdasarkan satu gejala.
3. Nyeri dan Kaku pada Sendi
Nyeri sendi menjadi salah satu keluhan yang cukup sering dikaitkan dengan penyakit autoimun tertentu.
Pada rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid, misalnya, sistem kekebalan menyerang jaringan pada persendian sehingga dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, rasa hangat, dan kekakuan.
Kekakuan juga dapat terasa lebih jelas setelah bangun tidur atau setelah tubuh tidak bergerak dalam waktu lama.
Pada penyakit autoimun lainnya, nyeri sendi dapat muncul dengan pola yang berbeda.
Karena itu, keluhan sendi sebaiknya tidak hanya dilihat dari rasa sakitnya. Durasi, lokasi, pembengkakan, kekakuan, dan gejala lain yang menyertainya juga penting diperhatikan.
Jika nyeri atau pembengkakan sendi berlangsung lama tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan medis dapat membantu mencari sumber masalahnya.
4. Perubahan pada Kulit
Kulit juga dapat menjadi salah satu bagian tubuh yang terkena dampak penyakit autoimun.
Beberapa penyakit autoimun dapat menyebabkan ruam, kulit kering atau bersisik, perubahan warna kulit, luka, hingga peradangan.
Psoriasis, misalnya, merupakan kondisi yang melibatkan sistem kekebalan dan dapat menyebabkan bercak kulit yang meradang serta bersisik. Sementara itu, vitiligo terjadi ketika sel pembentuk pigmen kulit dihancurkan oleh sistem kekebalan sehingga muncul area kulit yang kehilangan warna.
Pada lupus, perubahan kulit juga dapat menjadi bagian dari gejalanya. Salah satu yang dikenal adalah ruam pada wajah, selain sensitivitas terhadap sinar matahari dan jenis perubahan kulit lainnya.
Perubahan kulit yang tidak biasa memang tidak selalu menunjukkan autoimun. Alergi, infeksi, iritasi, dan berbagai gangguan kulit lainnya dapat menimbulkan keluhan serupa.
5. Otot Terasa Lemah atau Sakit
Selain persendian, beberapa penyakit autoimun juga dapat memengaruhi otot.
Keluhannya dapat berupa nyeri otot, kelemahan, atau tubuh terasa lebih sulit melakukan aktivitas tertentu.
NIH mencatat nyeri otot dan kelemahan sebagai salah satu gejala yang dapat muncul pada penyakit autoimun. Namun, gejala tersebut sangat tidak spesifik karena bisa terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurang tidur, infeksi, kekurangan nutrisi, maupun berbagai kondisi lainnya.
Jika kelemahan otot muncul terus-menerus, semakin berat, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perubahan pola makan atau istirahat.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
6. Demam yang Datang dan Pergi
Demam atau peningkatan suhu tubuh yang muncul berulang tanpa penyebab yang jelas juga dapat ditemukan pada sejumlah penyakit autoimun.
Hal ini dapat berkaitan dengan proses peradangan yang terjadi ketika sistem kekebalan terlalu aktif.
Pada lupus, misalnya, demam termasuk salah satu gejala yang dapat muncul bersama kelelahan, nyeri sendi, ruam, dan berbagai keluhan lainnya.
Meski demikian, demam lebih sering disebabkan oleh berbagai kondisi lain, terutama infeksi.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menganggap demam berulang sebagai tanda autoimun sebelum mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Jika demam terus berulang, berlangsung lama, atau disertai penurunan kondisi tubuh, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
7. Gangguan pada Organ atau Bagian Tubuh Tertentu
Salah satu alasan penyakit autoimun perlu diperhatikan adalah karena beberapa jenisnya dapat memengaruhi organ di luar sistem kekebalan atau jaringan yang pertama kali terkena.
Lupus merupakan salah satu contoh penyakit autoimun sistemik yang dapat memengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, jantung, paru-paru, darah, dan sistem saraf.
Sementara itu, Sjögren dapat menyerang kelenjar yang menghasilkan air mata dan air liur sehingga menyebabkan mata dan mulut terasa kering. Kondisi tersebut juga dapat disertai kelelahan, nyeri sendi, dan pada sebagian orang berdampak pada organ lain.
Ada pula penyakit autoimun yang terutama menyerang organ tertentu.
Contohnya adalah penyakit Hashimoto yang menyerang kelenjar tiroid. Jika berkembang menjadi hipotiroidisme, seseorang dapat mengalami kelelahan, kenaikan berat badan, tidak tahan dingin, kulit kering, serta rambut kering atau menipis.
Inilah alasan mengapa istilah “autoimun” tidak bisa dikaitkan dengan satu kumpulan gejala saja.
Mengapa Efek Autoimun Bisa Berbeda pada Setiap Orang?
Salah satu hal yang membuat penyakit autoimun cukup sulit dikenali adalah gejalanya tidak selalu sama.
Ada orang yang hanya mengalami keluhan pada satu bagian tubuh. Ada pula yang mengalami berbagai gejala secara bersamaan.
Selain itu, beberapa penyakit autoimun dapat mengalami periode ketika gejala memburuk atau kambuh, kemudian mereda kembali.
NIH menjelaskan bahwa gejala penyakit autoimun dapat menyerupai berbagai kondisi lain. Karena itu, proses diagnosis terkadang membutuhkan waktu dan evaluasi yang lebih menyeluruh.
Dokter dapat mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, dan bila diperlukan pemeriksaan pencitraan atau tes lainnya.
Menemukan antibodi tertentu dalam darah juga tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami penyakit autoimun. Hasil pemeriksaan perlu dilihat bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lainnya.
Rambut Rontok Tidak Selalu Berarti Autoimun
Judul tentang rambut rontok dan autoimun memang menarik perhatian, tetapi ada satu hal yang penting diluruskan.
Rambut rontok memiliki banyak kemungkinan penyebab.
Selain alopecia areata dan penyakit autoimun tertentu, kerontokan dapat berhubungan dengan perubahan hormon, stres berat, kekurangan zat gizi, penyakit tertentu, efek obat, faktor keturunan, atau masalah pada kulit kepala.
Karena itu, jangan melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan jumlah rambut yang rontok.
Kerontokan berbentuk bercak, kerontokan mendadak, rambut menipis dengan cepat, atau kerontokan yang disertai perubahan kulit sebaiknya diperiksakan.
Semakin jelas penyebabnya, semakin tepat pula penanganan yang dapat diberikan.
Kapan Gejala Autoimun Perlu Diperiksakan?
Tidak semua keluhan ringan berarti penyakit autoimun. Namun, pemeriksaan medis layak dipertimbangkan apabila beberapa gejala muncul secara terus-menerus, berulang, atau terjadi bersamaan tanpa penyebab yang jelas.
Beberapa kondisi yang patut diperhatikan antara lain:
- Rambut rontok tiba-tiba atau membentuk area kebotakan.
- Nyeri dan bengkak pada sendi yang berlangsung lama.
- Tubuh sangat mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.
- Ruam kulit berulang.
- Demam yang datang dan pergi.
- Kelemahan otot yang semakin mengganggu.
- Mata dan mulut terasa sangat kering.
- Keluhan pada beberapa bagian tubuh muncul secara bersamaan.
Gejala-gejala tersebut belum tentu menunjukkan penyakit autoimun. Namun, apabila menetap atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan dapat membantu memastikan penyebabnya.
Jangan Asal Mengonsumsi Suplemen atau Obat
Ketika membaca informasi mengenai autoimun, sebagian orang mungkin tergoda mencoba berbagai suplemen, herbal, atau obat tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.
Langkah tersebut sebaiknya dihindari.
Penyakit autoimun memiliki banyak jenis dan membutuhkan penanganan yang berbeda. Tidak ada satu pola makan atau satu suplemen yang dapat digunakan untuk semua penyakit autoimun.
Pengobatan juga perlu disesuaikan dengan penyakit dan tingkat keparahannya.
Karena beberapa terapi autoimun bekerja dengan memengaruhi sistem kekebalan tubuh, penggunaannya perlu berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Karena terdapat banyak jenis penyakit autoimun, efek yang muncul juga sangat beragam.
Tujuh efek yang dapat muncul pada sejumlah kondisi autoimun antara lain rambut rontok, mudah lelah, nyeri atau kaku sendi, perubahan kulit, nyeri atau kelemahan otot, demam berulang, serta gangguan pada organ atau bagian tubuh tertentu.
Rambut rontok memang dapat menjadi salah satu tanda pada penyakit autoimun tertentu, tetapi tidak semua kerontokan disebabkan oleh autoimun.
Hal terpenting adalah tidak mengabaikan gejala yang menetap atau muncul bersamaan. Jika tubuh menunjukkan perubahan yang tidak biasa dan berlangsung terus-menerus, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebabnya.
Kenali perubahan tubuh, tetapi jangan terburu-buru melakukan diagnosis sendiri. Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebab keluhan dapat diketahui dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia