Mulai dari Serat hingga Antioksidan, Ini 5 Manfaat Pare bagi Tubuh
Rasanya memang pahit, tetapi pare menyimpan beragam zat gizi yang dapat melengkapi pola makan sehari-hari. Dari kandungan serat hingga vitamin dan senyawa antioksidan, sayuran ini layak mendapat tempat di meja makan.
Bagi sebagian orang, pare mungkin bukan sayuran favorit. Rasa pahitnya yang khas membuat banyak orang memilih untuk menghindarinya, terutama ketika masih kecil.
Padahal, di balik rasa pahit tersebut, pare atau Momordica charantia mengandung berbagai zat gizi dan senyawa bioaktif yang menarik untuk dibahas.
Pare dapat diolah menjadi tumisan, sayur, campuran telur, hingga berbagai hidangan tradisional. Selain mudah ditemukan, sayuran ini juga relatif fleksibel untuk dipadukan dengan bahan makanan lain.
Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi kandungan dan potensi pare, termasuk aktivitas antioksidan serta kemungkinan pengaruhnya terhadap metabolisme gula darah. Namun, manfaat tersebut perlu dipahami secara proporsional. Pare bukan pengganti pengobatan medis dan bukan pula makanan ajaib yang dapat menyembuhkan penyakit.
Lantas, apa saja manfaat pare bagi kesehatan yang membuat sayuran pahit ini tetap menarik untuk dikonsumsi?
1. Membantu Menambah Asupan Serat
Salah satu alasan pare layak masuk ke dalam menu adalah kandungan seratnya.
Serat merupakan bagian penting dalam pola makan sehat karena membantu mendukung fungsi pencernaan. Asupan serat yang cukup juga dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama sehingga pola makan menjadi lebih teratur.
Ketika pare dikonsumsi sebagai bagian dari menu yang terdiri dari sayuran, sumber protein, dan karbohidrat dalam porsi seimbang, sayuran ini dapat membantu meningkatkan keragaman sumber serat dalam makanan.
Serat juga menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti pare harus dikonsumsi dalam jumlah besar. Kebutuhan serat sebaiknya dipenuhi dari berbagai makanan, seperti sayuran lain, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Dengan demikian, pare cukup dijadikan salah satu pilihan, bukan satu-satunya sumber serat.
2. Menyumbang Vitamin dan Mineral
Pare tidak hanya terdiri dari air dan rasa pahit. Sayuran ini juga menyediakan sejumlah vitamin dan mineral.
Berbagai kajian mengenai pare mencatat adanya kandungan vitamin C, beberapa vitamin kelompok B, folat, serta mineral seperti kalium, kalsium, magnesium, fosfor, dan zat besi.
Vitamin dan mineral tersebut memiliki fungsi yang berbeda di dalam tubuh.
Vitamin C, misalnya, berperan dalam fungsi sistem kekebalan tubuh, pembentukan kolagen, serta membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif.
Sementara itu, mineral seperti kalium dan magnesium memiliki peran dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk kerja otot dan saraf.
Tentu saja, jumlah zat gizi yang diperoleh akan dipengaruhi oleh porsi dan cara pengolahan.
Karena itu, jangan melihat pare sebagai satu makanan yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan vitamin dan mineral. Tubuh tetap membutuhkan variasi makanan agar memperoleh nutrisi yang lebih lengkap.
3. Mengandung Senyawa Antioksidan
Manfaat pare bagi kesehatan juga berkaitan dengan kandungan berbagai senyawa bioaktif.
Pare mengandung sejumlah senyawa tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa tersebut antara lain kelompok fenolik dan flavonoid yang telah menjadi perhatian dalam penelitian mengenai pare.
Antioksidan berperan membantu melindungi sel dari tekanan oksidatif yang dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralisirnya.
Namun, perlu dibedakan antara makanan yang mengandung antioksidan dan klaim bahwa makanan tersebut dapat mengobati penyakit tertentu.
Mengonsumsi pare bukan berarti seseorang terbebas dari penyakit.
Pola makan sehat secara keseluruhan justru jauh lebih penting. Sayuran berwarna hijau, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan berbagai makanan nabati lainnya dapat dikombinasikan untuk mendapatkan beragam senyawa alami.
Dengan kata lain, pare bisa menjadi salah satu bagian dari pola makan kaya antioksidan.
4. Dapat Menjadi Pilihan Sayuran untuk Pola Makan Seimbang
Pare juga menarik bagi orang yang sedang berusaha memperbaiki pola makan.
Sayuran umumnya memiliki kepadatan energi yang relatif rendah dibandingkan banyak makanan olahan tinggi kalori. Dengan mengombinasikan sayuran seperti pare dengan sumber protein dan karbohidrat berkualitas, seseorang dapat membuat menu yang lebih beragam.
Misalnya, pare dapat dimasak bersama:
- Telur.
- Tahu.
- Tempe.
- Ikan.
- Ayam.
- Sayuran lainnya.
Cara tersebut membuat pare tidak hanya menjadi lauk tambahan, tetapi bagian dari satu menu yang lebih lengkap.
Yang perlu diperhatikan adalah cara memasaknya.
Pare yang dimasak dengan banyak minyak, garam, atau bahan tambahan tinggi kalori tentu memiliki profil nutrisi yang berbeda dibandingkan pare yang ditumis dengan minyak secukupnya.
Jadi, manfaat makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan utamanya, tetapi juga oleh bagaimana makanan tersebut disiapkan.
5. Berpotensi Mendukung Pengelolaan Gula Darah, tetapi Bukan Pengganti Obat
Inilah salah satu alasan pare sangat sering dibicarakan.
Pare secara tradisional telah lama digunakan di berbagai wilayah sebagai bagian dari pengobatan tradisional untuk diabetes. Penelitian modern juga telah mengeksplorasi kemungkinan pengaruh pare terhadap kadar gula darah.
Hasil penelitian pada manusia, bagaimanapun, belum sepenuhnya konsisten.
Sejumlah analisis penelitian menunjukkan adanya kemungkinan penurunan kadar gula darah pada orang dengan pradiabetes atau diabetes tipe 2, sementara tinjauan lainnya menilai bukti yang tersedia masih terbatas dan belum cukup kuat untuk menjadikan pare sebagai terapi utama.
Karena itu, posisi pare sebaiknya ditempatkan secara tepat.
Pare dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat, tetapi tidak boleh dianggap sebagai pengganti obat diabetes.
Bagi seseorang yang sudah menggunakan obat untuk menurunkan gula darah, mengonsumsi ekstrak atau suplemen pare tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan juga bukan langkah yang tepat.
Terapi diabetes memiliki tujuan dan dosis yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang.
Mengapa Pare Terasa Sangat Pahit?
Rasa pahit pada pare bukan sekadar ciri khas yang membuatnya berbeda dari sayuran lain.
Rasa tersebut berasal dari berbagai senyawa alami yang terdapat di dalam tanaman pare.
Justru senyawa-senyawa tersebut menjadi salah satu alasan pare banyak diteliti.
Namun, rasa pahit yang kuat juga membuat sebagian orang kesulitan menikmatinya.
Untungnya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa pahit tanpa harus menghilangkan pare dari menu.
Cara Mengolah Pare agar Tidak Terlalu Pahit
Bagi yang ingin mulai mengonsumsi pare, proses pengolahan dapat membuat rasanya lebih mudah diterima.
Salah satu cara yang cukup umum adalah membelah pare, membuang bagian biji dan lapisan putih di bagian dalam, kemudian mengirisnya tipis.
Pare kemudian dapat diremas bersama sedikit garam dan dibiarkan beberapa saat sebelum dibilas.
Cara lainnya adalah merebus pare sebentar sebelum diolah menjadi masakan.
Namun, tidak perlu berlebihan dalam mengolahnya hanya untuk menghilangkan rasa pahit. Cara memasak yang terlalu lama juga dapat memengaruhi tekstur dan sebagian kandungan zat gizi yang sensitif terhadap panas.
Setelah itu, pare dapat ditumis bersama bawang putih, bawang merah, telur, tahu, tempe, atau bahan makanan lainnya.
Lebih Baik Pare Mentah atau Dimasak?
Tidak ada keharusan mengonsumsi pare dalam keadaan mentah.
Bagi sebagian orang, pare mentah terasa terlalu pahit dan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
Memasaknya terlebih dahulu dapat membuat teksturnya lebih lunak dan rasanya lebih mudah diterima.
Yang lebih penting adalah memilih metode memasak yang tidak menambahkan terlalu banyak gula, garam, atau minyak.
Tumisan sederhana dengan sedikit minyak dan bumbu dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibandingkan mengolah pare dengan banyak bahan tambahan.
Jangan Hanya Mengandalkan Pare untuk Menjaga Gula Darah
Karena pare sering dikaitkan dengan gula darah, muncul anggapan bahwa mengonsumsi pare saja sudah cukup untuk menjaga kadar gula.
Anggapan tersebut perlu diluruskan.
Pengelolaan gula darah dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, tidur, stres, kondisi kesehatan, serta obat-obatan bagi orang yang membutuhkannya.
Bahkan penelitian mengenai efek pare terhadap gula darah masih menunjukkan hasil yang beragam.
Tinjauan sistematis terhadap uji klinis menemukan bukti yang belum cukup konsisten untuk memastikan manfaat metabolik pare dalam jangka panjang.
Karena itu, jangan menghentikan obat diabetes hanya karena mulai rutin makan pare.
Jika ingin menjadikan pare sebagai bagian dari pola makan, anggaplah sayuran ini sebagai pelengkap, bukan terapi utama.
Siapa yang Perlu Berhati-hati?
Bagi kebanyakan orang, pare yang dikonsumsi sebagai makanan dalam jumlah wajar dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam.
Namun, kehati-hatian diperlukan ketika mengonsumsi pare dalam bentuk ekstrak atau suplemen dengan dosis tinggi.
Terlebih bagi orang yang sedang menggunakan obat diabetes.
Menggabungkan berbagai produk yang berpotensi memengaruhi gula darah tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko gula darah turun terlalu rendah pada kondisi tertentu.
NCCIH juga mencatat bahwa penelitian mengenai suplemen pare untuk diabetes masih terbatas dalam jumlah, ukuran, dan kualitas penelitian.
Karena itu, konsumsi pare sebagai sayuran berbeda dengan mengonsumsi ekstrak pare dalam dosis terkonsentrasi.
Jika memiliki diabetes dan ingin menggunakan produk pare dalam bentuk suplemen atau ekstrak, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Pare Tetap Perlu Dikonsumsi Secukupnya
Walaupun memiliki berbagai kandungan nutrisi, bukan berarti pare harus dikonsumsi setiap hari dalam jumlah besar.
Prinsip utama pola makan sehat tetap keberagaman.
Hari ini bisa mengonsumsi pare, besok bayam, kemudian brokoli, wortel, kacang panjang, sawi, atau sayuran lainnya.
Dengan pola seperti ini, tubuh mendapatkan berbagai jenis vitamin, mineral, serat, dan senyawa tumbuhan.
Selain itu, porsi juga perlu diperhatikan.
Makanan sehat tetap harus menjadi bagian dari pola makan yang seimbang, bukan dikonsumsi secara berlebihan dengan harapan memperoleh manfaat lebih besar.
Lima Manfaat Pare yang Perlu Diingat
Jika dirangkum, 5 manfaat pare bagi kesehatan yang paling relevan untuk diketahui adalah:
- Membantu menambah asupan serat untuk melengkapi pola makan sehari-hari.
- Menyumbang berbagai vitamin dan mineral, termasuk vitamin C dan folat.
- Mengandung senyawa antioksidan yang membantu melindungi sel dari tekanan oksidatif.
- Dapat menjadi pilihan sayuran dalam pola makan seimbang karena mudah dipadukan dengan berbagai sumber protein.
- Berpotensi mendukung pengelolaan gula darah, tetapi bukti klinisnya masih berkembang dan pare bukan pengganti obat.
Kesimpulan
Pare memang memiliki rasa pahit yang khas, tetapi rasa tersebut tidak mengurangi nilai gizinya.
Kandungan serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa bioaktif membuat pare layak menjadi bagian dari menu sehat.
Selain membantu menambah variasi sayuran, pare juga menyediakan vitamin C dan berbagai zat gizi lainnya serta mengandung senyawa dengan aktivitas antioksidan.
Potensinya terhadap gula darah juga menarik untuk terus diteliti. Namun, bukti pada manusia masih belum sepenuhnya seragam sehingga pare tidak seharusnya diposisikan sebagai obat diabetes.
Jadi, bagi Anda yang selama ini menjauhi pare karena rasanya pahit, mungkin sudah waktunya memberikan kesempatan kedua.
Tidak harus dikonsumsi setiap hari. Cukup masukkan pare secara bergantian bersama berbagai sayuran lain sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia