Gejala Ginjal yang Sering Dikira Maag atau Masalah Pencernaan, Ini Tanda yang Perlu Diperhatikan
Mual setelah makan, perut terasa tidak nyaman, nafsu makan menurun, atau berat badan perlahan berubah sering kali langsung dikaitkan dengan masalah pencernaan.
Banyak orang mungkin berpikir keluhan tersebut disebabkan maag, asam lambung, masuk angin, atau gangguan pencernaan biasa.
Padahal, sejumlah keluhan yang terasa seperti masalah pencernaan juga dapat muncul ketika fungsi ginjal sudah mengalami gangguan.
Kondisi ini perlu diperhatikan karena penyakit ginjal, terutama penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD), sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Banyak orang baru mengetahui adanya gangguan ginjal setelah menjalani pemeriksaan darah atau urine untuk alasan lain.
Ketika fungsi ginjal semakin menurun, zat sisa metabolisme dapat menumpuk di dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat berhubungan dengan munculnya berbagai keluhan, termasuk gejala yang berasal dari saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan.
Inilah yang membuat sebagian orang bisa keliru mengira masalah ginjal sebagai gangguan lambung atau pencernaan.
Lantas, apa saja gejalanya?
Mengapa Masalah Ginjal Bisa Menimbulkan Keluhan seperti Gangguan Pencernaan?
Ginjal memiliki pekerjaan yang sangat penting.
Organ berbentuk seperti kacang ini membantu menyaring limbah dari darah, mengatur keseimbangan cairan dan mineral, serta berperan dalam pengaturan tekanan darah dan produksi sel darah merah.
Ketika fungsi ginjal menurun cukup berat, kemampuan tubuh membuang zat sisa juga ikut terganggu.
Pada penyakit ginjal yang sudah lanjut, penumpukan zat sisa dalam darah dapat berkaitan dengan berbagai gejala, termasuk mual, muntah, kehilangan nafsu makan, perubahan rasa makanan, dan penurunan berat badan.
Akibatnya, seseorang mungkin lebih dulu berpikir:
“Sepertinya lambung saya bermasalah.”
Padahal, keluhan tersebut bisa memiliki penyebab lain.
Namun, penting digarisbawahi bahwa mual atau gangguan nafsu makan tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit ginjal. Banyak kondisi lain yang juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
1. Mual yang Terus Berulang
Mual merupakan salah satu keluhan yang paling mudah dikaitkan dengan gangguan pencernaan.
Seseorang mungkin menganggapnya sebagai tanda maag, asam lambung, salah makan, atau infeksi saluran pencernaan.
Namun, mual juga dapat muncul pada penyakit ginjal yang sudah lebih lanjut.
Ketika fungsi ginjal sangat menurun, penumpukan zat sisa metabolisme dalam darah dapat berhubungan dengan gejala seperti mual dan muntah.
Masalahnya, gejala tersebut tidak cukup spesifik untuk digunakan sebagai tanda tunggal penyakit ginjal.
Kapan perlu lebih waspada?
Perhatikan jika mual:
- sering berulang tanpa penyebab yang jelas;
- disertai nafsu makan yang semakin menurun;
- muncul bersama tubuh yang mudah lelah;
- disertai pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki;
- disertai perubahan pola buang air kecil;
- disertai urine berbusa atau berdarah;
- atau muncul bersama sesak napas.
Jika beberapa keluhan muncul secara bersamaan, pemeriksaan kesehatan menjadi lebih penting.
2. Nafsu Makan Menurun
Kehilangan nafsu makan sering dianggap sebagai masalah lambung atau pencernaan.
Padahal, pada penyakit ginjal yang sudah lanjut, penurunan nafsu makan juga dapat terjadi.
NIDDK mencatat bahwa kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah termasuk gejala yang dapat muncul ketika penyakit ginjal kronis sudah berkembang lebih jauh.
Seseorang mungkin mulai merasa makanan tidak lagi menarik.
Porsi makan yang biasanya habis justru tersisa.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama, berat badan pun dapat ikut menurun.
Jangan langsung menyimpulkan penyebabnya
Nafsu makan yang turun dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya:
- infeksi;
- gangguan pencernaan;
- stres;
- masalah gigi dan mulut;
- efek obat;
- gangguan hormon;
- penyakit kronis;
- hingga gangguan fungsi ginjal.
Karena penyebabnya sangat beragam, pemeriksaan diperlukan jika keluhan berlangsung terus-menerus.
3. Muntah yang Tidak Kunjung Membaik
Muntah tentu lebih sering dianggap berkaitan dengan sistem pencernaan.
Namun, pada gangguan ginjal berat, muntah juga dapat menjadi salah satu gejalanya.
Hal ini berkaitan dengan perubahan metabolisme dan penumpukan zat sisa ketika kemampuan ginjal menyaring darah mengalami penurunan.
Yang perlu diperhatikan adalah pola dan gejala penyertanya.
Jika muntah hanya terjadi satu kali setelah salah makan, tentu penyebabnya bisa sangat berbeda.
Tetapi jika muntah berulang dan disertai:
- nafsu makan menurun;
- tubuh sangat lemah;
- pembengkakan;
- perubahan jumlah urine;
- sesak;
- atau kebingungan,
jangan hanya menganggapnya sebagai masalah lambung.
Segera cari pertolongan medis.
4. Makanan Terasa Berbeda atau Mulut Terasa Tidak Enak
Ini merupakan gejala yang sering luput diperhatikan.
Ketika fungsi ginjal menurun cukup berat, sebagian orang dapat mengalami perubahan rasa makanan atau rasa tidak enak di mulut. Kondisi ini dapat ikut memengaruhi keinginan untuk makan.
Akibatnya, seseorang mungkin berkata:
“Makanan sekarang terasa aneh.”
Kemudian porsi makan berkurang.
Jika berlangsung cukup lama, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penurunan berat badan.
Tentu saja, perubahan rasa tidak selalu berhubungan dengan ginjal.
Infeksi, obat-obatan, gangguan mulut, masalah gigi, dan berbagai kondisi lainnya juga dapat memengaruhi indra pengecap.
Karena itu, gejala harus dilihat secara keseluruhan.
5. Berat Badan Menurun Tanpa Sengaja
Berat badan yang turun karena menjalani diet atau meningkatkan aktivitas fisik merupakan hal yang berbeda dengan berat badan yang turun tanpa direncanakan.
Jika seseorang tidak sedang mengurangi makan tetapi berat badannya terus berkurang, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Pada penyakit ginjal lanjut, kehilangan nafsu makan dan mual dapat menyebabkan asupan makanan berkurang sehingga berat badan ikut turun.
Namun, penurunan berat badan tanpa sebab juga dapat terjadi pada berbagai penyakit lain.
Karena itu, jangan langsung menganggapnya sebagai tanda gagal ginjal.
Yang lebih penting adalah mencari penyebabnya.
6. Perut Terasa Tidak Nyaman, tetapi Gejalanya Tidak Kunjung Jelas
Keluhan perut memang lebih sering berasal dari saluran pencernaan.
Akan tetapi, jika seseorang terus mengalami ketidaknyamanan tubuh bersamaan dengan gejala lain yang mengarah pada gangguan ginjal, pemeriksaan menyeluruh dapat membantu menemukan penyebabnya.
Jangan hanya berfokus pada satu organ.
Tubuh bekerja sebagai sebuah sistem.
Misalnya, seseorang mengalami mual, nafsu makan turun, tubuh lelah, kaki bengkak, dan pola buang air kecil berubah.
Jika hanya melihat gejala mual, seseorang mungkin langsung menyimpulkan “maag”.
Padahal, kombinasi gejala tersebut membutuhkan perhatian yang lebih luas.
7. Tubuh Mudah Lelah dan Lemah
Rasa lelah merupakan keluhan yang sangat umum.
Kurang tidur, stres, aktivitas berlebihan, anemia, infeksi, dan banyak kondisi lain dapat membuat tubuh lemas.
Namun, kelelahan juga dapat muncul pada penyakit ginjal kronis.
NIDDK mencantumkan rasa lelah, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, serta kelemahan sebagai beberapa keluhan yang dapat muncul ketika penyakit ginjal semakin berkembang.
Jika tubuh terus-menerus terasa lemas tanpa alasan yang jelas, jangan hanya mengandalkan suplemen atau minuman penambah energi.
Cari tahu penyebabnya.
8. Urine Berubah, Ini Justru Sering Menjadi Petunjuk Penting
Jika gejala pencernaan bisa membingungkan, perubahan urine dapat memberikan petunjuk tambahan.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- frekuensi buang air kecil berubah;
- lebih sering buang air kecil pada malam hari;
- urine tampak berbusa;
- urine mengandung darah;
- jumlah urine jauh berkurang;
- warna atau karakter urine berubah secara tidak biasa.
Pada penyakit ginjal kronis, perubahan frekuensi buang air kecil dan urine berbusa atau berdarah dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperiksa.
Namun, perubahan urine juga bisa disebabkan oleh kondisi lain.
Urine berbusa misalnya, tidak selalu berarti penyakit ginjal.
Karena itu, pemeriksaan urine diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat protein, darah, atau perubahan lain yang bermakna.
9. Kaki dan Pergelangan Kaki Membengkak
Ini merupakan tanda yang lebih mudah mengarahkan perhatian kepada masalah ginjal dibandingkan sekadar mual.
Ginjal membantu mengatur keseimbangan cairan dan garam dalam tubuh.
Ketika fungsi ginjal terganggu, tubuh dapat mengalami penumpukan cairan yang kemudian menyebabkan edema atau pembengkakan. Pembengkakan dapat muncul pada kaki, pergelangan kaki, tungkai, dan dalam kondisi tertentu bagian tubuh lainnya.
Jika pembengkakan muncul bersamaan dengan mual, nafsu makan turun, urine berubah, atau tubuh semakin lemas, sebaiknya jangan hanya menganggapnya sebagai akibat terlalu banyak berdiri.
Periksakan kondisi tersebut.
10. Sesak Napas yang Tidak Biasa
Sesak napas bukan gejala yang boleh dianggap sepele.
Pada penyakit ginjal lanjut, kelebihan cairan dapat berkontribusi terhadap masalah seperti pembengkakan dan sesak napas.
Jika sesak napas muncul secara tiba-tiba, sangat berat, disertai nyeri dada, kebingungan, bibir kebiruan, atau kondisi memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis.
Jangan mencoba memastikan sendiri apakah penyebabnya berasal dari lambung, ginjal, paru-paru, atau jantung.
Mengapa Penyakit Ginjal Sering Tidak Disadari?
Salah satu alasan utamanya adalah penyakit ginjal kronis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
NIDDK dan NHS sama-sama menjelaskan bahwa banyak orang dengan penyakit ginjal kronis tidak merasakan gejala pada tahap awal. Penyakit tersebut bahkan dapat ditemukan secara tidak sengaja melalui pemeriksaan darah atau urine.
Inilah yang membuat pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Jangan menunggu sampai tubuh memberikan banyak gejala.
Karena ketika gejala mulai jelas, gangguan ginjal pada sebagian orang sudah berada pada tahap yang lebih lanjut.
Siapa yang Sebaiknya Lebih Waspada terhadap Penyakit Ginjal?
Risiko penyakit ginjal dapat meningkat pada orang dengan kondisi tertentu.
Di antaranya:
1. Penderita diabetes
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.
2. Penderita tekanan darah tinggi
Tekanan darah tinggi dapat menjadi penyebab sekaligus akibat penyakit ginjal.
3. Orang yang pernah mengalami cedera ginjal akut
Riwayat acute kidney injury atau AKI dapat meningkatkan risiko masalah ginjal berikutnya.
4. Orang dengan penyakit jantung
Penyakit jantung dan penyakit ginjal dapat saling berkaitan.
5. Orang yang memiliki riwayat keluarga penyakit ginjal
Riwayat keluarga dapat menjadi salah satu alasan untuk lebih memperhatikan kesehatan ginjal.
Jika Anda memiliki faktor risiko tersebut, pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi gangguan lebih awal.
Bagaimana Membedakan Gejala Ginjal dengan Masalah Pencernaan?
Tidak selalu mungkin membedakannya hanya dari gejala.
Ini poin penting.
Misalnya, mual bisa disebabkan oleh:
- gastritis;
- infeksi saluran pencernaan;
- keracunan makanan;
- efek obat;
- kehamilan;
- migrain;
- gangguan ginjal;
- dan banyak kondisi lainnya.
Begitu pula kehilangan nafsu makan.
Karena gejala dapat tumpang tindih, diagnosis tidak seharusnya dibuat hanya berdasarkan satu keluhan.
Tetapi ada beberapa petunjuk
Jika keluhan pencernaan disertai perubahan urine, pembengkakan, kelelahan berkepanjangan, sesak napas, tekanan darah tinggi, atau perubahan berat badan yang tidak direncanakan, pemeriksaan ginjal patut dipertimbangkan.
Pemeriksaan Apa yang Bisa Mengetahui Kondisi Ginjal?
Kabar baiknya, gangguan ginjal dapat diperiksa.
Pemeriksaan biasanya melibatkan tes darah dan urine.
Tes darah dapat digunakan untuk menilai fungsi penyaringan ginjal, termasuk melalui kadar kreatinin dan perhitungan fungsi ginjal.
Sementara itu, pemeriksaan urine dapat membantu mendeteksi adanya darah, protein, atau perubahan lain yang dapat mengarah pada gangguan ginjal.
NHS menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis dapat diketahui melalui pemeriksaan darah dan urine, bahkan ketika seseorang belum merasakan gejala.
Dalam situasi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan pencitraan atau pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Jangan Menunggu Sampai Sakit Pinggang
Ada anggapan bahwa penyakit ginjal pasti ditandai dengan sakit pinggang.
Padahal, penyakit ginjal kronis sering kali tidak menimbulkan nyeri khas pada tahap awal.
Karena itu, tidak mengalami sakit pinggang bukan berarti fungsi ginjal pasti normal.
Sebaliknya, sakit pinggang juga tidak otomatis berarti penyakit ginjal.
Nyeri di bagian pinggang dapat disebabkan oleh otot, tulang belakang, saraf, saluran kemih, batu ginjal, atau kondisi lainnya.
Inilah alasan pemeriksaan tetap diperlukan.
Bagaimana dengan Infeksi Ginjal?
Berbeda dari penyakit ginjal kronis yang dapat berkembang perlahan, infeksi ginjal biasanya dapat menimbulkan gejala yang lebih jelas.
Menurut NIDDK, gejalanya dapat mencakup:
- demam;
- menggigil;
- nyeri di punggung atau sisi tubuh;
- buang air kecil terasa sakit;
- lebih sering buang air kecil;
- urine keruh, gelap, berdarah, atau berbau tidak biasa;
- mual;
- muntah.
Jika gejala seperti itu muncul, terutama disertai demam dan nyeri di sisi tubuh, jangan menganggapnya hanya sebagai masalah pencernaan.
Infeksi ginjal memerlukan penanganan medis karena dalam kasus tertentu dapat berkembang menjadi infeksi berat atau sepsis.
Bagaimana dengan Cedera Ginjal Akut?
Ada juga kondisi bernama acute kidney injury atau AKI, yaitu penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara cepat.
Berbeda dengan penyakit ginjal kronis yang berkembang dalam waktu lama, AKI dapat terjadi dalam hitungan jam atau hari.
Gejalanya dapat meliputi:
- jumlah urine jauh berkurang;
- mual;
- muntah;
- pembengkakan pada kaki;
- kelelahan;
- pusing;
- kebingungan;
- mengantuk;
- sesak napas.
Kondisi ini membutuhkan evaluasi medis.
Jangan menunggu gejala membaik sendiri jika terdapat penurunan urine yang nyata, muntah terus-menerus, pembengkakan, kebingungan, atau sesak.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Tidak semua mual atau perut tidak nyaman membutuhkan pemeriksaan ginjal.
Namun, beberapa situasi perlu mendapat perhatian lebih.
Segera cari pertolongan medis jika mengalami:
- urine jauh lebih sedikit dari biasanya;
- darah dalam urine;
- pembengkakan yang muncul atau semakin berat;
- muntah berulang;
- sesak napas;
- kebingungan;
- sangat mengantuk atau sulit dibangunkan;
- demam tinggi disertai nyeri pinggang atau sisi tubuh;
- nyeri berat yang tidak membaik;
- tanda dehidrasi berat;
- atau kondisi tubuh memburuk dengan cepat.
Pada cedera ginjal akut, misalnya, penurunan jumlah urine, mual, muntah, pembengkakan, kebingungan, dan sesak merupakan gejala yang memerlukan perhatian medis.
Jangan Asal Minum Obat Saat Perut Tidak Nyaman
Ketika mengalami mual atau sakit perut, sebagian orang langsung membeli obat tanpa mencari tahu penyebabnya.
Padahal, jika keluhan berulang atau disertai gejala yang mengarah pada gangguan ginjal, sebaiknya jangan hanya mengandalkan obat pereda gejala.
Beberapa obat juga dapat menjadi masalah bagi orang dengan kondisi ginjal tertentu.
Karena itu, jika Anda sudah memiliki penyakit ginjal atau fungsi ginjal terganggu, tanyakan kepada dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat bebas secara rutin.
7 Kebiasaan yang Membantu Menjaga Kesehatan Ginjal
Menjaga ginjal bukan hanya soal minum air putih.
Ada beberapa kebiasaan yang lebih penting untuk diperhatikan.
1. Kendalikan tekanan darah
Tekanan darah tinggi dapat merusak ginjal jika berlangsung lama.
2. Jaga gula darah
Jika memiliki diabetes, pengendalian gula darah merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan ginjal.
3. Perhatikan berat badan
Berat badan sehat dapat mendukung kesehatan metabolik secara keseluruhan.
4. Aktif bergerak
Aktivitas fisik rutin dapat membantu kesehatan jantung dan metabolisme.
5. Jangan sembarangan menggunakan obat
Penggunaan obat tertentu secara tidak tepat dapat membebani ginjal.
6. Jangan mengabaikan pemeriksaan
Terutama jika memiliki faktor risiko penyakit ginjal.
7. Terapkan pola makan seimbang
Utamakan makanan beragam dengan sayuran, buah sesuai kebutuhan, sumber protein, dan makanan minim proses berlebihan.
Jangan Menunggu Gejala Berat untuk Memeriksa Ginjal
Salah satu pesan terpenting dari pembahasan ini adalah:
Penyakit ginjal tidak selalu memberikan tanda sejak awal.
Karena itu, orang yang merasa sehat belum tentu tidak memiliki masalah ginjal.
Terlebih bagi mereka yang mempunyai diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, riwayat cedera ginjal akut, atau faktor risiko lainnya.
Pemeriksaan darah dan urine dapat membantu menemukan masalah sebelum gejalanya menjadi lebih jelas.
Jadi, pemeriksaan bukan hanya dilakukan ketika sudah sakit.
Pada kelompok berisiko, pemeriksaan berkala justru dapat menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi ginjal lebih dini.
Kesimpulan
Mual, muntah, nafsu makan menurun, perubahan rasa makanan, dan berat badan turun tidak selalu berarti masalah pencernaan. Pada penyakit ginjal yang sudah lebih lanjut, sejumlah gejala tersebut juga dapat muncul.
Namun, jangan pula langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang mual atau kehilangan nafsu makan sedang mengalami penyakit ginjal.
Gejala-gejala tersebut sangat umum dan dapat disebabkan oleh banyak kondisi.
Yang perlu diperhatikan adalah kombinasi gejala dan lamanya keluhan.
Jika masalah pencernaan yang tidak jelas penyebabnya muncul bersama urine berbusa atau berdarah, perubahan frekuensi buang air kecil, pembengkakan kaki, tubuh sangat lelah, sesak napas, atau berat badan turun tanpa sengaja, sebaiknya jangan hanya mengobati gejalanya.
Lakukan pemeriksaan.
Terlebih jika Anda memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau faktor risiko penyakit ginjal lainnya.
Ginjal yang bermasalah tidak selalu langsung terasa sakit. Karena itu, mengenali tanda-tanda yang sering disalahartikan sebagai masalah pencernaan dapat membantu seseorang lebih cepat mencari pertolongan.
Pada akhirnya, langkah terbaik bukan menebak sendiri penyakit berdasarkan gejala, melainkan melakukan pemeriksaan darah dan urine ketika memang diperlukan.
FAQ Seputar Gejala Ginjal yang Sering Disangka Masalah Pencernaan
Apakah mual bisa menjadi tanda penyakit ginjal?
Bisa, terutama pada penyakit ginjal yang sudah lebih lanjut. Namun, mual juga memiliki banyak penyebab lain sehingga tidak dapat digunakan sebagai tanda tunggal penyakit ginjal.
Apakah sakit perut pasti berarti masalah pencernaan?
Tidak selalu. Sakit atau ketidaknyamanan di perut dapat memiliki banyak penyebab. Jika disertai gejala seperti perubahan urine, pembengkakan, atau kondisi tubuh yang semakin menurun, sebaiknya diperiksa.
Apakah penyakit ginjal selalu menyebabkan sakit pinggang?
Tidak. Penyakit ginjal kronis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal dan tidak selalu menyebabkan sakit pinggang.
Apa tanda ginjal bermasalah yang perlu diperhatikan?
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan urine, urine berdarah atau berbusa, pembengkakan, kelelahan, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, dan sesak pada kondisi tertentu.
Bagaimana cara mengetahui fungsi ginjal?
Fungsi ginjal dapat dievaluasi melalui pemeriksaan darah dan urine. Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan kondisi dan faktor risiko seseorang.
Siapa yang perlu rutin memeriksa ginjal?
Orang dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, riwayat cedera ginjal akut, atau faktor risiko tertentu dapat membutuhkan pemeriksaan ginjal secara berkala.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia