Salah Posisi Saat Tidur Bisa Ganggu Lambung dan Tulang, Begini Cara Memperbaikinya
Jangan anggap sepele posisi tidur. Kebiasaan sederhana ini ternyata dapat memengaruhi kenyamanan lambung, kesehatan tulang belakang, hingga kualitas istirahat pada orang dengan kondisi tertentu.
Tidur bukan hanya soal berapa lama seseorang memejamkan mata. Cara tubuh ditempatkan selama berjam-jam juga ikut menentukan apakah seseorang bangun dalam kondisi segar atau justru mengalami leher kaku, pinggang pegal, hingga keluhan lambung.
Menariknya, tidak ada satu posisi tidur yang mutlak paling baik untuk semua orang. Posisi yang nyaman bagi seseorang belum tentu cocok bagi orang lain. Kondisi kesehatan, bentuk tubuh, kebiasaan tidur, jenis kasur, hingga keluhan yang sedang dialami perlu dipertimbangkan.
Dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang dr. Andra Hendriarto, Sp.OT(K), yang merupakan lulusan Universitas Indonesia, sebelumnya menjelaskan bahwa posisi tidur memiliki kaitan dengan kenyamanan dan kesehatan tulang belakang. Ia juga menekankan pentingnya menyesuaikan kasur serta posisi bantal dengan kebiasaan tidur.
Di sisi lain, bagi orang yang mengalami gangguan asam lambung atau GERD, posisi miring ke kiri kerap lebih dianjurkan karena dapat membantu mengurangi kemungkinan isi lambung naik ke kerongkongan.
Lantas, bagaimana posisi tidur yang sebaiknya diterapkan agar lambung, jantung, dan tulang tetap terjaga?
Mengapa posisi tidur penting bagi kesehatan?
Ketika tidur, tubuh berada dalam satu posisi selama berjam-jam. Jika posisi tersebut membuat tulang belakang terlalu membungkuk, leher menekuk, atau bagian tertentu tubuh menerima tekanan berlebihan, keluhan dapat muncul ketika bangun.
Tidak sedikit orang yang merasa tubuhnya sakit pada pagi hari tetapi tidak menyadari bahwa penyebabnya mungkin berasal dari posisi tidur.
Bantal yang terlalu tinggi, kasur yang terlalu empuk, kasur yang sudah ambles, atau kebiasaan tidur dengan tubuh meringkuk dapat membuat postur tubuh tidak berada dalam posisi optimal.
Sebaliknya, posisi tidur yang sesuai dapat membantu tubuh mempertahankan kesejajaran tulang belakang, mengurangi tekanan pada titik tertentu, dan membuat otot lebih rileks selama beristirahat.
Namun, manfaat tersebut tetap bersifat individual. Orang yang mengalami GERD, misalnya, mungkin membutuhkan posisi berbeda dibandingkan orang yang memiliki keluhan tulang belakang.
Posisi tidur miring ke kiri, baik untuk penderita asam lambung
Salah satu posisi yang banyak direkomendasikan bagi orang yang mengalami refluks asam atau GERD adalah tidur miring ke kiri.
Alasannya berkaitan dengan anatomi tubuh. Lambung berada lebih dominan di sisi kiri bagian atas perut. Ketika seseorang berbaring miring ke kiri, posisi lambung dapat membantu menjaga isi lambung tetap berada di bawah area pertemuan lambung dan kerongkongan.
Kondisi tersebut membuat isi lambung cenderung tidak mudah mengalir kembali ke kerongkongan.
Sebaliknya, pada sebagian penderita GERD, tidur miring ke kanan dapat membuat keluhan refluks lebih mudah muncul.
Gejalanya bisa berupa:
- dada terasa panas atau terbakar;
- rasa asam atau pahit di mulut;
- sendawa berulang;
- mual;
- batuk pada malam hari;
- tenggorokan terasa tidak nyaman;
- tidur sering terbangun.
Meski demikian, posisi tidur bukan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya GERD.
Kebiasaan makan terlalu dekat dengan waktu tidur, makanan berlemak, makanan pedas, kopi, berat badan berlebih, dan pola hidup tertentu juga dapat memicu keluhan.
Jangan langsung berbaring setelah makan
Bagi orang yang mudah mengalami asam lambung naik, mengatur posisi tidur saja tidak cukup.
Salah satu kebiasaan penting adalah memberikan jeda antara makan malam dan waktu tidur.
Jika seseorang baru saja mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak kemudian langsung berbaring, lambung masih dalam proses mencerna makanan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya refluks pada orang yang rentan.
Karena itu, usahakan makan malam tidak terlalu dekat dengan waktu tidur.
Porsi makan juga sebaiknya tidak berlebihan. Makan dalam jumlah besar menjelang tidur dapat membuat perut terasa penuh dan meningkatkan rasa tidak nyaman ketika berbaring.
Bagaimana dengan tidur telentang?
Tidur telentang sebenarnya bukan posisi yang selalu buruk.
Bagi sebagian orang, posisi ini justru dapat membantu menjaga tubuh tetap simetris dan membuat tulang belakang berada dalam posisi relatif netral.
Namun, ada satu syarat penting: penyangga tubuh harus tepat.
Bantal tidak boleh membuat kepala terlalu terangkat atau justru terlalu rendah. Jika posisi kepala tidak sesuai dengan leher, seseorang dapat bangun dengan keluhan kaku atau nyeri pada leher.
Untuk orang yang memiliki masalah tulang belakang, jenis kasur juga perlu diperhatikan.
Menurut dr. Andra Hendriarto, orang yang terbiasa tidur telentang dapat memilih kasur medium hingga medium firm agar punggung mendapatkan penopang yang memadai.
Jadi, anggapan bahwa semakin keras kasur maka semakin sehat untuk pinggang tidak selalu benar.
Yang lebih penting adalah kemampuan kasur menopang tubuh tanpa membuat tulang belakang berada dalam posisi tidak alami.
Tidur miring juga membutuhkan teknik yang tepat
Tidur menyamping sering menjadi pilihan banyak orang. Posisi ini dapat terasa nyaman, terutama bagi mereka yang mudah mendengkur atau tidak nyaman tidur telentang.
Namun, ada kesalahan yang cukup sering dilakukan.
Seseorang mungkin tidur menyamping dengan tubuh terlalu meringkuk, kepala menunduk, dan pinggang membungkuk selama berjam-jam.
Jika dilakukan terus-menerus, posisi tersebut dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman ketika bangun.
Dokter Andra juga menyoroti kebiasaan tidur sambil memeluk guling tetapi dengan posisi tubuh terlalu meringkuk.
Masalah utamanya bukan pada penggunaan guling, melainkan postur tubuh ketika menggunakannya.
Tubuh sebaiknya tetap memiliki garis yang relatif lurus dari kepala, leher hingga tulang belakang.
Bantal jangan hanya menopang kepala
Kesalahan kecil yang sering tidak disadari adalah memilih bantal berdasarkan kenyamanan kepala saja.
Padahal, bantal juga harus membantu mempertahankan posisi leher.
Jika bantal terlalu rendah, kepala dapat turun sehingga leher menekuk.
Sebaliknya, bantal yang terlalu tinggi dapat membuat leher terdorong ke depan.
Posisi tersebut mungkin tidak langsung terasa bermasalah. Namun setelah digunakan selama enam hingga delapan jam, tekanan pada otot dan struktur leher dapat membuat seseorang bangun dengan rasa kaku.
Untuk tidur menyamping, tinggi bantal perlu disesuaikan dengan jarak antara bahu dan kepala agar leher tidak miring ke atas atau ke bawah.
Sementara untuk tidur telentang, bantal sebaiknya cukup menopang lekukan alami leher tanpa membuat kepala terdorong terlalu jauh ke depan.
Jangan lupakan posisi kaki saat tidur menyamping
Ada satu trik sederhana yang dapat dicoba oleh orang yang senang tidur menyamping, yaitu menempatkan bantal di antara kedua lutut.
Cara ini dapat membantu menjaga posisi panggul dan kaki agar lebih sejajar.
Ketika lutut dibiarkan saling bertumpuk, panggul dapat berputar dan membuat sebagian orang merasa tidak nyaman pada pinggang.
Bantal di antara lutut juga dapat mengurangi tekanan pada area tertentu, terutama bagi orang yang sering mengalami pegal setelah tidur.
Namun, lagi-lagi, kenyamanan setiap orang berbeda. Jika penggunaan bantal justru membuat tubuh terasa kaku, ketinggian dan posisinya perlu disesuaikan.
Apakah tidur miring baik untuk jantung?
Pembahasan mengenai posisi tidur dan jantung sering menimbulkan salah persepsi.
Ada anggapan bahwa tidur miring ke kiri selalu buruk bagi jantung karena jantung berada di sisi kiri dada. Padahal, pada orang sehat, tidur miring ke kiri tidak otomatis membahayakan jantung.
Sebagian orang bahkan merasa nyaman dengan posisi tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah orang dengan kondisi jantung tertentu dapat memiliki kebutuhan posisi tidur yang berbeda.
Pada sebagian penderita gagal jantung, misalnya, berbaring datar dapat membuat keluhan sesak menjadi lebih terasa. Posisi tubuh bagian atas yang sedikit ditinggikan terkadang dapat membantu meningkatkan kenyamanan.
Karena itu, orang dengan penyakit jantung sebaiknya tidak mengubah posisi tidur berdasarkan informasi umum semata. Posisi yang paling sesuai perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan arahan dokter.
Posisi tidur setengah duduk bisa membantu kondisi tertentu
Bagi orang yang mengalami sesak ketika berbaring, posisi tubuh bagian atas yang sedikit ditinggikan dapat menjadi pilihan.
Teknik ini dikenal sebagai posisi semi-Fowler.
Tubuh tidak benar-benar duduk, tetapi bagian kepala dan dada dibuat lebih tinggi daripada perut dan kaki.
Posisi tersebut dapat memberikan rasa lebih lega pada sebagian orang dengan gangguan pernapasan atau kondisi jantung tertentu.
Namun, posisi ini bukan berarti semua penderita penyakit jantung harus tidur setengah duduk.
Jika seseorang baru mengalami sesak saat berbaring, sering terbangun karena sulit bernapas, atau membutuhkan banyak bantal agar bisa tidur, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sekadar masalah posisi tidur.
Keluhan tersebut perlu diperiksakan karena dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan.
Posisi tidur yang baik untuk kesehatan tulang belakang
Untuk menjaga tulang belakang, prinsip paling penting bukan sekadar memilih telentang atau miring.
Yang lebih penting adalah mempertahankan posisi tulang belakang senatural mungkin.
Ketika tubuh tidur, tulang belakang sebaiknya tidak dipaksa terlalu membungkuk atau berputar.
Untuk orang yang tidur telentang, kasur medium hingga medium firm dapat memberikan dukungan yang cukup.
Sementara bagi orang yang tidur menyamping, kasur yang sedikit lebih responsif dapat membantu bahu dan panggul mendapatkan ruang sehingga tubuh tidak terasa terlalu tertekan.
Dengan kata lain, pilihan kasur harus mengikuti posisi tidur dan bentuk tubuh.
Hati-hati dengan kasur yang sudah ambles
Kasur yang sudah lama digunakan sering mengalami perubahan bentuk.
Bagian tengah bisa menjadi lebih rendah dibandingkan sisi lainnya. Akibatnya, tubuh tidak lagi mendapatkan penopang yang merata.
Jika seseorang selalu bangun dengan pinggang terasa sakit atau tubuh terasa seperti “tidak enak badan”, kondisi kasur sebaiknya diperiksa.
Kasur yang ambles dapat membuat tulang belakang berada dalam posisi tidak ideal selama berjam-jam.
Bahkan jika seseorang sudah berusaha memperbaiki posisi tidur, masalah tersebut bisa tetap muncul karena permukaan kasur tidak mampu menopang tubuh dengan baik.
Hindari kebiasaan tidur tengkurap terlalu lama
Tidur tengkurap memang nyaman bagi sebagian orang, tetapi posisi ini memiliki kelemahan.
Ketika tengkurap, kepala biasanya harus diputar ke salah satu sisi agar seseorang dapat bernapas.
Jika berlangsung berjam-jam, leher berada dalam posisi rotasi dalam waktu lama.
Selain itu, posisi tengkurap juga dapat meningkatkan tekanan pada bagian depan tubuh dan membuat tulang belakang lebih sulit mempertahankan posisi netral.
Bukan berarti setiap orang yang tidur tengkurap pasti mengalami masalah.
Namun, jika seseorang sering bangun dengan leher kaku, bahu sakit, atau punggung terasa tidak nyaman, kebiasaan tidur tengkurap patut dievaluasi.
Bagaimana posisi tidur yang ideal?
Jika dirangkum, posisi tidur yang ideal dapat berbeda berdasarkan kondisi tubuh.
1. Untuk kesehatan lambung
Miring ke kiri sering menjadi pilihan yang lebih baik bagi penderita GERD.
Bagian atas tubuh juga dapat dibuat sedikit lebih tinggi untuk membantu mengurangi refluks pada malam hari.
2. Untuk kesehatan tulang belakang
Telentang atau menyamping dapat menjadi pilihan, selama tulang belakang tetap berada dalam posisi netral dan mendapatkan dukungan yang cukup.
Pemilihan bantal dan kasur sangat menentukan.
3. Untuk penderita gangguan jantung tertentu
Tidak ada satu posisi yang berlaku untuk semua pasien.
Jika muncul sesak ketika berbaring, posisi tubuh bagian atas yang lebih tinggi dapat membantu sebagian orang, tetapi penyebab keluhan tetap harus diperiksa.
4. Untuk orang tanpa keluhan kesehatan tertentu
Pilih posisi yang membuat tubuh nyaman, tidak menyebabkan nyeri, dan memungkinkan tidur berlangsung tanpa sering terbangun.
Kualitas tidur secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang sangat penting.
Cara mengatur posisi tidur agar lebih nyaman
Selain menentukan posisi, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Gunakan bantal sesuai posisi tubuh
Bantal harus menopang kepala dan leher secara proporsional.
Jangan memilih bantal hanya karena terasa empuk. Yang lebih penting adalah apakah bantal mampu mempertahankan posisi leher secara alami.
Periksa kondisi kasur
Kasur yang terlalu keras belum tentu baik.
Kasur yang terlalu empuk juga dapat membuat tubuh tenggelam sehingga tulang belakang kehilangan dukungan.
Pilih permukaan yang memberikan keseimbangan antara kenyamanan dan penopang tubuh.
Jangan tidur dalam posisi meringkuk ekstrem
Posisi janin yang terlalu rapat dapat membuat leher, punggung, dan pinggul berada dalam posisi membungkuk.
Jika nyaman tidur menyamping, usahakan tubuh tetap relatif memanjang.
Berikan ruang pada bahu dan pinggul
Orang yang tidur menyamping membutuhkan permukaan yang dapat mengikuti kontur tubuh.
Jika kasur terlalu keras, bahu dan pinggul dapat menerima tekanan lebih besar.
Hindari makan besar sebelum tidur
Kebiasaan ini terutama penting bagi orang yang sering mengalami asam lambung.
Berikan waktu agar proses pencernaan berjalan sebelum tubuh benar-benar berbaring.
Jangan memaksakan satu posisi
Jika sebuah posisi menyebabkan nyeri, kesemutan, sesak, atau rasa tidak nyaman, jangan memaksakannya hanya karena dianggap “paling sehat”.
Tubuh memberikan sinyal yang perlu diperhatikan.
Tanda posisi tidur Anda mungkin bermasalah
Ada beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk bahwa posisi tidur atau perlengkapan tidur perlu diperbaiki.
Di antaranya:
- bangun tidur dengan leher kaku;
- pinggang terasa sakit setiap pagi;
- bahu sering pegal;
- kesemutan setelah bangun;
- sakit kepala pada pagi hari;
- sering terbangun karena dada terasa panas;
- asam atau pahit terasa sampai tenggorokan;
- sulit bernapas ketika berbaring;
- tidur terasa tidak nyenyak meski durasinya cukup.
Jika keluhan hanya muncul sesekali, evaluasi bantal, kasur, posisi tubuh, dan kebiasaan sebelum tidur dapat menjadi langkah awal.
Namun, keluhan yang terus berulang sebaiknya tidak dianggap sebagai masalah tidur semata.
Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?
Posisi tidur dapat membantu meningkatkan kenyamanan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan medis.
Segera cari pertolongan medis apabila mengalami nyeri dada yang berat atau baru muncul, sesak napas yang signifikan, pingsan, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar ke lengan maupun rahang.
Untuk keluhan lambung, pemeriksaan juga diperlukan jika gejala terjadi berulang, sulit menelan, muntah terus-menerus, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau terdapat tanda perdarahan seperti muntah darah maupun tinja berwarna hitam.
Sementara itu, nyeri punggung yang disertai kelemahan kaki, mati rasa yang semakin berat, gangguan buang air kecil atau buang air besar juga membutuhkan perhatian medis segera.
Tidur sehat bukan hanya soal posisi
Posisi tidur memang penting, tetapi kesehatan tubuh tidak ditentukan oleh posisi semata.
Durasi tidur yang cukup, jadwal tidur teratur, aktivitas fisik, pola makan, berat badan, konsumsi kafein, hingga kondisi kamar juga ikut menentukan kualitas istirahat.
Karena itu, jangan berharap satu posisi tidur dapat menyelesaikan semua masalah kesehatan.
Bagi penderita GERD, fokus utama dapat diarahkan pada pengendalian refluks dan menghindari pemicu.
Bagi orang yang mengalami masalah tulang belakang, perhatian perlu diberikan pada postur, kasur, bantal, aktivitas fisik, dan kekuatan otot.
Sementara bagi penderita penyakit jantung, posisi tidur harus disesuaikan dengan kondisi medis dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Posisi tidur ternyata bukan sekadar kebiasaan sebelum memejamkan mata. Cara tubuh berbaring selama berjam-jam dapat memengaruhi kenyamanan lambung, tulang belakang, serta keluhan tertentu yang berkaitan dengan jantung dan pernapasan.
Tidur miring ke kiri dapat menjadi pilihan yang membantu sebagian penderita asam lambung. Sementara untuk kesehatan tulang belakang, tidur telentang atau menyamping sama-sama dapat menjadi pilihan selama postur tubuh tetap baik, bantal sesuai, dan kasur mampu menopang tubuh.
Dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang dr. Andra Hendriarto juga menekankan bahwa pemilihan kasur sebaiknya disesuaikan dengan posisi tidur. Mereka yang tidur telentang dapat mempertimbangkan kasur medium hingga medium firm, sedangkan orang yang tidur menyamping dapat lebih nyaman menggunakan kasur medium soft.
Pada akhirnya, posisi tidur terbaik adalah posisi yang membuat tubuh tetap tertopang, tulang belakang berada dalam posisi alami, tidak memperburuk keluhan kesehatan, dan membuat tidur berkualitas.
Jika Anda terus-menerus bangun dalam kondisi sakit, mengalami refluks pada malam hari, atau merasa sesak ketika berbaring, jangan hanya mengganti posisi tidur. Cari tahu penyebabnya dan konsultasikan dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia