Sakit perut berulang pada anak dapat berkaitan dengan IBS, sembelit, infeksi, atau gangguan pencernaan lainnya. Kenali gejalanya dan konsultasikan dengan dokter.
Sakit perut merupakan keluhan yang cukup sering dialami anak-anak. Namun, orang tua sebaiknya tidak selalu menganggapnya sebagai gangguan pencernaan biasa, terutama jika rasa sakit muncul berulang kali, semakin berat, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Salah satu kondisi yang dapat menyebabkan sakit perut berulang adalah sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS). Gangguan ini dapat membuat anak mengalami nyeri perut, kram, perut kembung, serta perubahan pola buang air besar, seperti sembelit dan diare.
Meski demikian, sakit perut berlebihan tidak selalu menandakan IBS. Keluhan serupa bisa disebabkan oleh sembelit, infeksi saluran pencernaan, intoleransi makanan, infeksi saluran kemih, hingga kondisi lain yang membutuhkan penanganan medis.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali gejala, memahami kemungkinan penyebab, dan mengetahui kapan anak perlu diperiksa dokter.
Apa itu iritasi usus atau sindrom iritasi usus besar pada anak?
Sindrom iritasi usus besar atau IBS merupakan gangguan fungsi saluran pencernaan yang menyebabkan nyeri perut berulang disertai perubahan kebiasaan buang air besar.
Pada anak dengan IBS, usus dapat menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan tertentu. Pergerakan otot usus juga bisa mengalami perubahan sehingga proses pengeluaran tinja menjadi lebih cepat atau lebih lambat.
IBS termasuk gangguan interaksi antara otak dan usus. Artinya, komunikasi antara sistem saraf dan saluran pencernaan ikut berperan dalam munculnya keluhan.
Hal penting yang perlu dipahami adalah IBS tidak sama dengan penyakit radang usus. Pada IBS, umumnya tidak ditemukan kerusakan jaringan atau peradangan yang terlihat pada saluran pencernaan.
Kondisi ini dapat berlangsung dalam waktu lama, tetapi gejalanya bisa datang dan pergi. Tingkat keluhan setiap anak juga berbeda.
7 gejala iritasi usus pada anak yang perlu diperhatikan
Gejala IBS pada anak dapat terlihat mirip dengan gangguan pencernaan lainnya. Oleh sebab itu, orang tua perlu memperhatikan pola keluhan dan perubahan kebiasaan anak.
Berikut beberapa gejala yang dapat muncul.
1. Sakit perut berulang
Salah satu tanda utama IBS adalah nyeri perut yang muncul berulang kali.
Anak mungkin mengeluhkan rasa sakit di bagian tengah atau bawah perut. Keluhan dapat muncul sebelum buang air besar, ketika sedang mengalami sembelit, atau setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Rasa sakit bisa berlangsung dalam waktu berbeda-beda. Ada anak yang hanya mengalami kram sesaat, sementara anak lainnya merasa tidak nyaman lebih lama.
Jika keluhan terus berulang, sebaiknya orang tua mencatat kapan rasa sakit muncul, bagian perut yang terasa nyeri, serta aktivitas yang sedang dilakukan anak.
2. Sering mengalami diare
IBS dapat menyebabkan perubahan pola buang air besar, salah satunya diare.
Anak mungkin lebih sering buang air besar dengan tinja yang lebih lunak atau cair. Pada sebagian anak, keluhan tersebut dapat muncul setelah makan atau ketika mengalami stres.
Namun, diare tidak selalu disebabkan oleh IBS. Infeksi virus, bakteri, parasit, dan intoleransi makanan juga dapat memicu kondisi serupa.
Diare yang berlangsung terus-menerus, disertai demam, darah pada tinja, atau tanda dehidrasi harus segera diperiksakan.
3. Mengalami sembelit atau sulit buang air besar
Selain diare, sebagian anak dengan IBS justru mengalami sembelit.
Tinja dapat menjadi keras, kering, dan sulit dikeluarkan. Anak mungkin terlihat mengejan, merasa sakit saat buang air besar, atau tidak buang air besar sesering biasanya.
Sembelit juga dapat menyebabkan perut terasa penuh dan kembung.
Perlu diketahui bahwa sembelit sendiri merupakan salah satu penyebab umum sakit perut pada anak. Jika nyeri perut membaik setelah sembelit teratasi, dokter dapat mempertimbangkan apakah keluhan tersebut lebih sesuai dengan konstipasi fungsional daripada IBS.
4. Perut kembung dan sering mengeluarkan gas
Anak yang mengalami gangguan pencernaan dapat mengeluhkan perut terasa penuh, membesar, atau tidak nyaman.
Kondisi tersebut terkadang disertai sering bersendawa dan buang angin.
Pada IBS, kembung dapat muncul bersama nyeri perut dan perubahan pola buang air besar. Sensitivitas usus yang meningkat dapat membuat anak merasa lebih terganggu oleh gas di dalam saluran pencernaan.
Meski begitu, kembung juga bisa terjadi karena kebiasaan makan terlalu cepat, konsumsi makanan tertentu, atau gangguan pencernaan lainnya.
5. Merasa belum tuntas setelah buang air besar
Sebagian anak dengan IBS dapat merasakan seolah-olah masih ingin buang air besar meskipun baru saja menggunakan toilet.
Perasaan tersebut dapat membuat anak berulang kali pergi ke kamar mandi atau merasa tidak nyaman setelah buang air besar.
Orang tua perlu memperhatikan apakah keluhan ini terjadi bersama nyeri perut, perubahan bentuk tinja, atau frekuensi buang air besar.
6. Nafsu makan berkurang karena perut tidak nyaman
Nyeri perut dan kembung dapat membuat anak kehilangan keinginan untuk makan.
Sebagian anak mungkin hanya mau mengonsumsi makanan tertentu karena khawatir perutnya kembali terasa sakit setelah makan.
Jika berlangsung lama, perubahan pola makan dapat memengaruhi kecukupan nutrisi dan pertumbuhan anak.
Karena itu, jangan langsung memaksa anak menghabiskan makanan tanpa mencari tahu penyebab ketidaknyamanannya. Jika nafsu makan menurun terus-menerus atau berat badan berkurang, segera konsultasikan dengan dokter.
7. Keluhan muncul dan menghilang
IBS dapat menyebabkan gejala yang tidak selalu muncul setiap hari.
Anak mungkin merasa sehat selama beberapa waktu, kemudian kembali mengalami sakit perut, kembung, diare, atau sembelit.
Pola keluhan yang datang dan pergi dapat membuat orang tua kesulitan mengetahui pemicunya.
Mencatat waktu munculnya gejala, makanan yang dikonsumsi, pola tidur, dan kondisi emosional anak dapat membantu dokter memahami keluhan tersebut.
Apa penyebab anak mengalami iritasi usus?
Penyebab pasti IBS belum sepenuhnya diketahui. Kondisi ini diduga berkaitan dengan beberapa mekanisme yang memengaruhi hubungan antara otak dan saluran pencernaan.
Berikut beberapa faktor yang dapat berperan.
1. Usus lebih sensitif terhadap rangsangan
Pada sebagian anak dengan IBS, saluran pencernaan menjadi lebih sensitif terhadap peregangan dan pergerakan usus.
Akibatnya, aktivitas pencernaan yang biasanya tidak menimbulkan masalah dapat terasa menyakitkan.
2. Perubahan pergerakan usus
Otot usus berfungsi mendorong makanan dan sisa pencernaan melalui saluran pencernaan.
Jika pergerakannya terlalu cepat, anak dapat mengalami diare. Sebaliknya, jika terlalu lambat, sembelit bisa terjadi.
Perubahan pola gerakan usus ini merupakan salah satu mekanisme yang berkaitan dengan IBS.
3. Stres dan kecemasan
Kondisi emosional dapat memengaruhi hubungan antara otak dan saluran pencernaan.
Tekanan di sekolah, perubahan lingkungan, masalah pertemanan, atau kecemasan tertentu dapat memperburuk keluhan pada sebagian anak.
Namun, bukan berarti sakit perut yang dialami anak hanya disebabkan oleh pikiran. Rasa nyeri yang mereka rasakan tetap nyata dan perlu diperhatikan.
4. Pernah mengalami infeksi saluran pencernaan
Sebagian anak dapat mengalami gejala gangguan pencernaan berkepanjangan setelah infeksi saluran cerna.
Infeksi sebelumnya diduga dapat memengaruhi sensitivitas dan fungsi usus pada sebagian orang.
5. Faktor makanan tertentu
Beberapa makanan atau minuman dapat memicu keluhan pada anak tertentu.
Contohnya adalah makanan yang sulit ditoleransi oleh tubuh, makanan tinggi lemak, atau produk susu pada anak yang mengalami intoleransi laktosa.
Namun, pemicu makanan setiap anak tidak selalu sama. Orang tua sebaiknya tidak langsung menghilangkan banyak kelompok makanan dari menu anak tanpa arahan dokter atau ahli gizi.
Sakit perut anak tidak selalu berarti IBS, kenali penyebab lainnya
Penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami iritasi usus hanya berdasarkan keluhan sakit perut.
Ada beberapa kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
1. Sembelit
Penumpukan tinja di usus dapat menyebabkan kram, perut kembung, dan nyeri ketika anak buang air besar.
2. Gastroenteritis
Infeksi saluran pencernaan dapat menyebabkan sakit perut, diare, muntah, dan terkadang demam.
3. Intoleransi laktosa
Sebagian anak kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami dalam susu. Kondisi ini dapat menyebabkan kembung, gas, diare, dan sakit perut setelah mengonsumsi produk susu.
4. Infeksi saluran kemih
Infeksi pada saluran kemih juga dapat menyebabkan nyeri perut, terutama di bagian bawah. Keluhan dapat disertai demam, sering buang air kecil, atau rasa sakit ketika berkemih.
5. Penyakit radang usus
Penyakit seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn dapat menyebabkan nyeri perut, diare berkepanjangan, darah pada tinja, penurunan berat badan, dan gangguan pertumbuhan.
Berbeda dari IBS, penyakit radang usus melibatkan peradangan pada saluran pencernaan sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan khusus.
Kapan sakit perut anak harus segera diperiksa?
Orang tua perlu lebih waspada jika sakit perut disertai tanda-tanda yang tidak biasa.
Segera bawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan medis apabila mengalami:
- Nyeri perut sangat hebat atau semakin memburuk.
- Nyeri yang menetap di bagian kanan bawah atau kanan atas perut.
- Muntah berulang atau tidak mampu mempertahankan asupan cairan.
- Tinja berdarah atau berwarna hitam seperti aspal.
- Demam yang tidak diketahui penyebabnya.
- Diare yang membangunkan anak pada malam hari.
- Berat badan turun tanpa alasan jelas.
- Pertumbuhan anak melambat.
- Perut membengkak atau terasa sangat nyeri ketika disentuh.
Jika sakit perut muncul mendadak dan sangat hebat, perut terasa keras, anak tampak sangat lemas, mengalami pingsan, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat, segera cari pertolongan medis darurat.
Gejala tersebut tidak khas untuk IBS dan dapat mengindikasikan masalah kesehatan lain yang membutuhkan penanganan segera.
Bagaimana dokter memastikan anak mengalami iritasi usus?
Diagnosis IBS tidak dapat ditentukan hanya dari satu gejala atau pemeriksaan sederhana.
Dokter biasanya akan memulai dengan menanyakan riwayat keluhan anak, termasuk lokasi nyeri, frekuensi sakit perut, hubungan nyeri dengan buang air besar, serta perubahan bentuk dan frekuensi tinja.
Dokter juga dapat menanyakan pola makan, riwayat penyakit keluarga, obat-obatan yang digunakan, infeksi sebelumnya, dan kondisi emosional anak.
Dalam kriteria yang digunakan untuk menilai IBS pada anak, dokter dapat mempertimbangkan adanya nyeri perut setidaknya empat hari dalam sebulan, disertai hubungan dengan buang air besar atau perubahan kebiasaan buang air besar. Keluhan juga perlu berlangsung dalam periode tertentu dan tidak lebih tepat dijelaskan oleh penyakit lain.
Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti:
- Tes darah untuk menilai anemia, infeksi, atau kemungkinan penyakit tertentu.
- Pemeriksaan tinja untuk mencari tanda infeksi atau perdarahan.
- Pemeriksaan urine jika dicurigai infeksi saluran kemih.
- USG perut jika terdapat indikasi medis.
- Endoskopi atau kolonoskopi pada kondisi tertentu jika dokter perlu mengevaluasi penyakit lain.
Tidak semua anak membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik, dan pertimbangan dokter.
Cara membantu menjaga kesehatan pencernaan anak
Jika anak sering mengalami keluhan perut, orang tua dapat membantu melalui kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan pencernaan.
Namun, langkah berikut bukan pengganti pemeriksaan dan pengobatan jika anak memiliki kondisi medis tertentu.
1. Biasakan pola makan teratur
Usahakan anak memiliki jadwal makan yang teratur dan tidak terlalu sering melewatkan waktu makan.
Berikan makanan dengan komposisi seimbang, seperti nasi atau sumber karbohidrat lainnya, lauk berprotein, sayuran, dan buah.
2. Penuhi kebutuhan cairan
Pastikan anak mendapatkan cukup air putih sepanjang hari.
Cairan membantu mendukung fungsi pencernaan dan menjaga konsistensi tinja, terutama pada anak yang mudah mengalami sembelit.
3. Berikan makanan berserat sesuai kebutuhan
Serat dari buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat membantu menjaga pola buang air besar.
Namun, penambahan serat sebaiknya dilakukan bertahap. Pada sebagian anak, perubahan serat secara mendadak justru dapat meningkatkan gas dan kembung.
4. Ajak anak melakukan aktivitas fisik
Bermain, berjalan kaki, bersepeda, atau aktivitas fisik lain sesuai usia dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.
Kebiasaan bergerak juga dapat mendukung fungsi pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.
5. Perhatikan makanan yang memicu keluhan
Orang tua dapat membuat catatan sederhana mengenai makanan yang dikonsumsi dan gejala yang muncul setelahnya.
Catatan ini membantu menemukan pola yang mungkin berkaitan dengan keluhan perut.
Jangan langsung menerapkan diet ketat atau menghilangkan banyak jenis makanan karena anak masih membutuhkan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang.
6. Perhatikan kondisi emosional anak
Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita jika mengalami masalah di sekolah, lingkungan pertemanan, atau rumah.
Rutinitas tidur yang cukup, suasana keluarga yang nyaman, dan kegiatan relaksasi dapat membantu anak menghadapi stres.
Jika kecemasan atau tekanan emosional terus mengganggu aktivitas, mintalah bantuan tenaga profesional.
Apakah iritasi usus pada anak bisa disembuhkan?
Penanganan IBS pada anak disesuaikan dengan gejala, usia, kebutuhan nutrisi, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Dokter dapat menyarankan perubahan pola makan, pengaturan aktivitas, terapi psikologis tertentu, atau obat-obatan jika diperlukan.
Beberapa anak dapat memperoleh manfaat dari terapi perilaku kognitif atau hipnoterapi yang dilakukan oleh tenaga profesional terlatih. Pendekatan tersebut bertujuan membantu anak mengelola nyeri dan hubungan antara sistem saraf dengan saluran pencernaan.
Probiotik tertentu juga dapat dipertimbangkan oleh dokter, tetapi manfaatnya tidak sama untuk semua produk dan semua anak.
Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat antidiare, pencahar, antibiotik, atau suplemen secara sembarangan. Penggunaan obat harus disesuaikan dengan penyebab keluhan dan petunjuk tenaga kesehatan.
Kesimpulan
Anak yang sering mengalami sakit perut berulang perlu mendapatkan perhatian, terutama jika keluhan mengganggu waktu makan, bermain, tidur, dan aktivitas sehari-hari.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah sindrom iritasi usus besar atau IBS, yang dapat menimbulkan nyeri perut, diare, sembelit, kembung, dan perubahan pola buang air besar.
Namun, sakit perut berlebihan tidak selalu berarti iritasi usus. Sembelit, infeksi pencernaan, intoleransi makanan, serta penyakit lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Orang tua sebaiknya memperhatikan pola gejala, menjaga asupan makanan dan cairan anak, serta berkonsultasi dengan dokter jika sakit perut sering berulang. Jangan menunda pemeriksaan apabila terdapat tanda bahaya seperti nyeri hebat, muntah terus-menerus, tinja berdarah, demam, atau penurunan berat badan.
Mengenali keluhan sejak dini membantu anak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat sehingga kesehatan serta tumbuh kembangnya tetap terjaga.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia